{"id":5878,"date":"2026-04-10T10:26:00","date_gmt":"2026-04-10T10:26:00","guid":{"rendered":"https:\/\/tokpee.co\/blog\/?p=5878"},"modified":"2026-04-13T03:08:43","modified_gmt":"2026-04-13T03:08:43","slug":"cara-menghitung-laba-kotor","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/tokpee.co\/blog\/cara-menghitung-laba-kotor\/","title":{"rendered":"Cara Menghitung Laba Kotor untuk Pemilik Toko &#038; UMKM (Rumus + Contoh Nyata)"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Banyak pemilik toko yang merasa tokonya ramai tapi bingung kenapa uang di rekening tidak pernah nambah. Penjualan tinggi, stok selalu habis, tapi di akhir bulan margin terasa tipis bahkan tidak kelihatan. Salah satu penyebabnya adalah tidak tahu berapa sebenarnya laba kotor per produk yang dijual.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Laba kotor adalah angka paling dasar yang harus dipantau setiap pemilik toko&nbsp; sebelum bicara promo, diskon, atau ekspansi. Tanpa tahu laba kotor, kamu tidak bisa tahu apakah harga jual yang kamu pasang sudah cukup sehat, atau justru kamu sudah kerja keras tapi margin produknya sudah tipis sejak awal.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Artikel ini membahas cara menghitung laba kotor secara praktis khusus untuk pemilik toko dan UMKM&nbsp; dari toko online, warung makan, reseller, sampai usaha produksi rumahan lengkap dengan rumus, contoh nyata, dan tabel benchmark margin per jenis usaha.<\/p>\n\n\n\n<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_81 counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/tokpee.co\/blog\/cara-menghitung-laba-kotor\/#Apa_Itu_Laba_Kotor_untuk_Pemilik_Toko\" >Apa Itu Laba Kotor untuk Pemilik Toko?<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/tokpee.co\/blog\/cara-menghitung-laba-kotor\/#Rumus_Laba_Kotor\" >Rumus Laba Kotor<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/tokpee.co\/blog\/cara-menghitung-laba-kotor\/#Biaya_yang_Masuk_HPP_dan_yang_Tidak_Khusus_Toko_UMKM\" >Biaya yang Masuk HPP dan yang Tidak&nbsp; Khusus Toko &amp; UMKM<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/tokpee.co\/blog\/cara-menghitung-laba-kotor\/#Langkah-Langkah_Cara_Menghitung_Laba_Kotor\" >Langkah-Langkah Cara Menghitung Laba Kotor<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/tokpee.co\/blog\/cara-menghitung-laba-kotor\/#Contoh_Menghitung_Laba_Kotor_per_Jenis_Usaha\" >Contoh Menghitung Laba Kotor per Jenis Usaha<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-6\" href=\"https:\/\/tokpee.co\/blog\/cara-menghitung-laba-kotor\/#Toko_Online_Reseller_Baju\" >Toko Online (Reseller Baju)<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-7\" href=\"https:\/\/tokpee.co\/blog\/cara-menghitung-laba-kotor\/#Warung_Usaha_F_B_Warung_Nasi_Rumahan\" >Warung \/ Usaha F&amp;B (Warung Nasi Rumahan)<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-8\" href=\"https:\/\/tokpee.co\/blog\/cara-menghitung-laba-kotor\/#UMKM_Produksi_Produsen_Keripik_Rumahan\" >UMKM Produksi (Produsen Keripik Rumahan)<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-9\" href=\"https:\/\/tokpee.co\/blog\/cara-menghitung-laba-kotor\/#Berapa_Margin_Laba_Kotor_yang_Sehat_untuk_Toko_UMKM\" >Berapa Margin Laba Kotor yang Sehat untuk Toko &amp; UMKM?<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-10\" href=\"https:\/\/tokpee.co\/blog\/cara-menghitung-laba-kotor\/#Cara_Menghitung_Margin_Laba_Kotor\" >Cara Menghitung Margin Laba Kotor<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-11\" href=\"https:\/\/tokpee.co\/blog\/cara-menghitung-laba-kotor\/#Perbedaan_Laba_Kotor_Laba_Bersih_Omzet_dan_Margin\" >Perbedaan Laba Kotor, Laba Bersih, Omzet, dan Margin<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-12\" href=\"https:\/\/tokpee.co\/blog\/cara-menghitung-laba-kotor\/#Kesalahan_Umum_Pemilik_Toko_Saat_Hitung_Laba_Kotor\" >Kesalahan Umum Pemilik Toko Saat Hitung Laba Kotor<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-13\" href=\"https:\/\/tokpee.co\/blog\/cara-menghitung-laba-kotor\/#Template_Hitung_Laba_Kotor_Bulanan_per_Produk\" >Template Hitung Laba Kotor Bulanan per Produk<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-14\" href=\"https:\/\/tokpee.co\/blog\/cara-menghitung-laba-kotor\/#Pantau_Laba_Kotor_Tokomu_Otomatis_dengan_Tokpee\" >Pantau Laba Kotor Tokomu Otomatis dengan Tokpee<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-15\" href=\"https:\/\/tokpee.co\/blog\/cara-menghitung-laba-kotor\/#Kesimpulan\" >Kesimpulan<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Apa_Itu_Laba_Kotor_untuk_Pemilik_Toko\"><\/span><strong>Apa Itu Laba Kotor untuk Pemilik Toko?<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><a href=\"https:\/\/tokpee.co\/blog\/cara-menghitung-laba-kotor-perusahaan-manufaktur\/\">Laba kotor adalah<\/a> sisa uang dari total penjualan setelah dikurangi biaya langsung untuk mendapatkan atau menghasilkan barang yang dijual. Dalam dunia toko dan UMKM, biaya langsung ini biasanya berupa harga beli barang, bahan baku, kemasan, dan ongkos produksi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Yang perlu dipahami: laba kotor belum menghitung biaya operasional seperti gaji karyawan, ongkir, iklan, sewa tempat, listrik, atau biaya marketing. Jadi laba kotor bukan angka final \u2014 tapi ini adalah indikator pertama yang menunjukkan apakah produk yang kamu jual punya &#8220;ruang&#8221; yang cukup untuk menutup semua biaya lain dan masih tersisa keuntungan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Untuk pemilik toko, laba kotor berguna untuk tiga hal:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Mengevaluasi apakah harga jual sudah sesuai dengan biaya produk<\/li>\n\n\n\n<li>Membandingkan produk mana yang paling menguntungkan<\/li>\n\n\n\n<li>Memutuskan produk mana yang layak dipromosikan dan mana yang harus dinaikkan harganya<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Rumus_Laba_Kotor\"><\/span><strong>Rumus Laba Kotor<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Rumus laba kotor sebenarnya sangat sederhana:&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Laba Kotor = Pendapatan &#8211; Harga Pokok Penjualan (HPP).&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pendapatan = jumlah produk terjual \u00d7 harga jual per produk<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">HPP = semua biaya langsung untuk menghasilkan atau mendapatkan produk yang dijual<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Untuk pemilik toko yang beli barang lalu jual kembali (reseller\/dropshipper), HPP biasanya adalah harga beli barang ditambah kemasan. Untuk yang produksi sendiri (UMKM\/home industry), HPP terdiri dari bahan baku, kemasan, dan tenaga kerja langsung.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jadi, kalau kamu <a href=\"https:\/\/tokpee.co\/blog\/cara-menghitung-laba-kotor\/\">mau cara mencari laba kotor,<\/a> intinya cuma satu: hitung dulu total penjualan, lalu hitung total biaya langsung, setelah itu kurangkan keduanya. Hasilnya adalah laba kotor.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Biaya_yang_Masuk_HPP_dan_yang_Tidak_Khusus_Toko_UMKM\"><\/span><strong>Biaya yang Masuk HPP dan yang Tidak&nbsp; Khusus Toko &amp; UMKM<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ini yang paling sering bikin salah hitung. Berikut panduan cepat untuk pemilik toko:<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table\"><table class=\"has-fixed-layout\"><tbody><tr><td><strong>Komponen Biaya<\/strong><\/td><td><strong>Masuk HPP<\/strong><\/td><td><strong>Tidak Masuk HPP<\/strong><\/td><\/tr><tr><td>Harga beli barang dagangan<\/td><td>\u2705<\/td><td><\/td><\/tr><tr><td>Bahan baku produksi<\/td><td>\u2705<\/td><td><\/td><\/tr><tr><td>Kemasan produk<\/td><td>\u2705<\/td><td><\/td><\/tr><tr><td>Tenaga kerja langsung produksi<\/td><td>\u2705<\/td><td><\/td><\/tr><tr><td>Ongkir masuk stok<\/td><td>\u2705<\/td><td><\/td><\/tr><tr><td>Biaya iklan \/ promosi<\/td><td><\/td><td>\u2705<\/td><\/tr><tr><td>Gaji admin \/ kasir<\/td><td><\/td><td>\u2705<\/td><\/tr><tr><td>Sewa toko \/ lapak<\/td><td><\/td><td>\u2705<\/td><\/tr><tr><td>Listrik &amp; internet<\/td><td><\/td><td>\u2705<\/td><\/tr><tr><td>Ongkir ke pembeli<\/td><td><\/td><td>\u2705<\/td><\/tr><tr><td>Biaya marketplace (komisi)<\/td><td><\/td><td>\u2705<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Catatan penting untuk seller online: ongkir ke pembeli dan komisi marketplace bukan bagian dari HPP keduanya masuk biaya operasional. Banyak seller toko online mencampur ini ke HPP, sehingga laba kotor kelihatan lebih kecil dari sebenarnya.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Langkah-Langkah_Cara_Menghitung_Laba_Kotor\"><\/span><strong>Langkah-Langkah Cara Menghitung Laba Kotor<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"640\" height=\"427\" src=\"https:\/\/tokpee.co\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/image-79.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-6858\" srcset=\"https:\/\/tokpee.co\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/image-79.jpeg 640w, https:\/\/tokpee.co\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/image-79-300x200.jpeg 300w, https:\/\/tokpee.co\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/image-79-512x342.jpeg 512w\" sizes=\"auto, (max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kalau kamu ingin menghitung laba kotor dengan rapi, ikuti langkah-langkah berikut.<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li>Catat total penjualan \u2014 jumlah produk terjual \u00d7 harga jual<\/li>\n\n\n\n<li>Hitung HPP per produk \u2014 semua biaya langsung per unit<\/li>\n\n\n\n<li>Kalikan HPP per unit dengan jumlah terjual \u2014 ini total HPP<\/li>\n\n\n\n<li>Kurangi pendapatan dengan total HPP \u2014 hasilnya adalah laba kotor<\/li>\n\n\n\n<li>Hitung margin laba kotor jika ingin analisis lebih dalam (rumusnya di bagian bawah)<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dengan langkah seperti ini, cara menghitung keuntungan jualan jadi lebih jelas. Kamu tidak cuma tahu angka penjualan, tetapi juga tahu apakah penjualan itu benar-benar menghasilkan keuntungan yang sehat.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Contoh_Menghitung_Laba_Kotor_per_Jenis_Usaha\"><\/span><strong>Contoh Menghitung Laba Kotor per Jenis Usaha<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Toko_Online_Reseller_Baju\"><\/span><strong>Toko Online (Reseller Baju)<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Seorang pemilik toko online baju reseller mendapatkan data bulan ini:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Produk terjual: 200 pcs<\/li>\n\n\n\n<li>Harga jual per pcs: Rp85.000<\/li>\n\n\n\n<li>Harga beli per pcs: Rp50.000<\/li>\n\n\n\n<li>Kemasan (plastik + bubble wrap): Rp3.000\/pcs<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perhitungan:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Pendapatan: 200 \u00d7 Rp85.000 = Rp17.000.000<\/li>\n\n\n\n<li>HPP per pcs: Rp50.000 + Rp3.000 = Rp53.000<\/li>\n\n\n\n<li>Total HPP: 200 \u00d7 Rp53.000 = Rp10.600.000<\/li>\n\n\n\n<li>Laba kotor: Rp17.000.000 \u2212 Rp10.600.000 = Rp6.400.000<\/li>\n\n\n\n<li>Margin laba kotor: (Rp6.400.000 \/ Rp17.000.000) \u00d7 100% = 37,6%<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Warung_Usaha_F_B_Warung_Nasi_Rumahan\"><\/span><strong>Warung \/ Usaha F&amp;B (Warung Nasi Rumahan)<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pemilik warung nasi bungkus selama satu minggu:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Porsi terjual: 350 bungkus<\/li>\n\n\n\n<li>Harga jual per bungkus: Rp15.000<\/li>\n\n\n\n<li>Biaya bahan (nasi, lauk, sayur) per bungkus: Rp7.500<\/li>\n\n\n\n<li>Kemasan + sendok per bungkus: Rp1.500<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perhitungan:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Pendapatan: 350 \u00d7 Rp15.000 = Rp5.250.000<\/li>\n\n\n\n<li>HPP per bungkus: Rp7.500 + Rp1.500 = Rp9.000<\/li>\n\n\n\n<li>Total HPP: 350 \u00d7 Rp9.000 = Rp3.150.000<\/li>\n\n\n\n<li>Laba kotor: Rp5.250.000 \u2212 Rp3.150.000 = Rp2.100.000<\/li>\n\n\n\n<li>Margin laba kotor: (Rp2.100.000 \/ Rp5.250.000) \u00d7 100% = 40%<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"UMKM_Produksi_Produsen_Keripik_Rumahan\"><\/span><strong>UMKM Produksi (Produsen Keripik Rumahan)<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Usaha keripik singkong skala rumahan dalam satu bulan:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Produk terjual: 500 bungkus<\/li>\n\n\n\n<li>Harga jual per bungkus: Rp12.000<\/li>\n\n\n\n<li>Bahan baku per bungkus: Rp3.500<\/li>\n\n\n\n<li>Kemasan + label: Rp1.500<\/li>\n\n\n\n<li>Tenaga kerja langsung per bungkus: Rp1.000<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perhitungan:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Pendapatan: 500 \u00d7 Rp12.000 = Rp6.000.000<\/li>\n\n\n\n<li>HPP per bungkus: Rp3.500 + Rp1.500 + Rp1.000 = Rp6.000<\/li>\n\n\n\n<li>Total HPP: 500 \u00d7 Rp6.000 = Rp3.000.000<\/li>\n\n\n\n<li>Laba kotor: Rp6.000.000 \u2212 Rp3.000.000 = Rp3.000.000<\/li>\n\n\n\n<li>Margin laba kotor: (Rp3.000.000 \/ Rp6.000.000) \u00d7 100% = 50%<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Berapa_Margin_Laba_Kotor_yang_Sehat_untuk_Toko_UMKM\"><\/span><strong>Berapa Margin Laba Kotor yang Sehat untuk Toko &amp; UMKM?<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ini yang tidak ada di artikel manapun tapi paling sering ditanyakan pemilik toko&nbsp; apakah margin yang saya dapat sudah bagus atau belum?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Berikut patokan umum margin laba kotor per jenis usaha UMKM di Indonesia:<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table\"><table class=\"has-fixed-layout\"><tbody><tr><td><strong>Jenis Usaha<\/strong><\/td><td><strong>Margin Laba Kotor Sehat<\/strong><\/td><td><strong>Catatan<\/strong><\/td><\/tr><tr><td><strong>Reseller \/ dropshipper<\/strong><\/td><td>20\u201340%<\/td><td>Margin tipis, perlu volume tinggi<\/td><\/tr><tr><td><strong>Toko retail fashion<\/strong><\/td><td>35\u201355%<\/td><td>Tergantung brand dan eksklusivitas<\/td><\/tr><tr><td><strong>F&amp;B \/ warung makan<\/strong><\/td><td>35\u201360%<\/td><td>Makin dari scratch makin tinggi<\/td><\/tr><tr><td><strong>Toko sembako \/ kelontong<\/strong><\/td><td>10\u201325%<\/td><td>Margin kecil, andalkan perputaran stok<\/td><\/tr><tr><td><strong>UMKM produksi (makanan)<\/strong><\/td><td>40\u201365%<\/td><td>Margin lebih besar karena produksi sendiri<\/td><\/tr><tr><td><strong>UMKM produksi (kerajinan)<\/strong><\/td><td>45\u201370%<\/td><td>Sangat bergantung harga bahan baku<\/td><\/tr><tr><td><strong>Jasa \/ digital product<\/strong><\/td><td>60\u201380%+<\/td><td>HPP minimal karena tidak ada barang fisik<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jika margin laba kotormu di bawah batas bawah kategori usahamu, ada dua kemungkinan: harga jual terlalu murah, atau biaya langsung (HPP) terlalu tinggi. Dua-duanya perlu segera dievaluasi.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Cara_Menghitung_Margin_Laba_Kotor\"><\/span><strong>Cara Menghitung Margin Laba Kotor<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Setelah dapat angka laba kotor, hitung persentase marginnya:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Margin Laba Kotor = (Laba Kotor \u00f7 Pendapatan) \u00d7 100%<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mengapa margin lebih penting dari angka nominal laba kotor? Karena margin memungkinkan kamu membandingkan produk secara fair meski harganya berbeda-beda. Produk dengan laba kotor nominal Rp5.000 tapi dijual Rp8.000 (margin 62%) jauh lebih sehat daripada produk dengan laba kotor Rp15.000 tapi dijual Rp80.000 (margin hanya 18%).<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Perbedaan_Laba_Kotor_Laba_Bersih_Omzet_dan_Margin\"><\/span><strong>Perbedaan Laba Kotor, Laba Bersih, Omzet, dan Margin<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table\"><table class=\"has-fixed-layout\"><tbody><tr><td><strong>Istilah<\/strong><\/td><td><strong>Artinya<\/strong><\/td><td><strong>Rumus<\/strong><\/td><td><strong>Digunakan Untuk<\/strong><\/td><\/tr><tr><td><strong>Omzet<\/strong><\/td><td>Total uang masuk dari penjualan<\/td><td>Jumlah terjual \u00d7 harga jual<\/td><td>Melihat skala penjualan<\/td><\/tr><tr><td><strong>Laba Kotor<\/strong><\/td><td>Sisa setelah dikurangi HPP<\/td><td>Pendapatan \u2212 HPP<\/td><td>Cek kesehatan harga &amp; biaya produk<\/td><\/tr><tr><td><strong>Laba Bersih<\/strong><\/td><td>Sisa setelah semua biaya<\/td><td>Laba kotor \u2212 biaya operasional<\/td><td>Cek untung akhir bisnis<\/td><\/tr><tr><td><strong>Margin<\/strong><\/td><td>Persentase laba dari penjualan<\/td><td>(Laba \u00f7 Pendapatan) \u00d7 100%<\/td><td>Bandingkan efisiensi antar produk<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Yang paling penting dipahami pemilik toko: omzet besar bukan berarti untung besar. Bisa saja omzet Rp50 juta sebulan tapi laba bersihnya hanya Rp2 juta karena HPP tinggi dan biaya operasional besar.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Kesalahan_Umum_Pemilik_Toko_Saat_Hitung_Laba_Kotor\"><\/span><strong>Kesalahan Umum Pemilik Toko Saat Hitung Laba Kotor<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li>Lupa memasukkan kemasan ke HPP \u2014 untuk toko online dan UMKM makanan, ini sering terlewat padahal nilainya lumayan<\/li>\n\n\n\n<li>Menganggap omzet = untung \u2014 kesalahan paling umum terutama seller pemula yang baru ramai pesanan<\/li>\n\n\n\n<li>Mencampur HPP dengan biaya operasional \u2014 iklan, ongkir ke pembeli, dan komisi marketplace bukan HPP<\/li>\n\n\n\n<li>Tidak pisah HPP per produk \u2014 kalau jual banyak produk dengan biaya berbeda, hitung HPP masing-masing, jangan dirata-rata<\/li>\n\n\n\n<li>Salah hitung harga saat ada diskon \u2014 pendapatan yang dipakai harus harga setelah diskon, bukan harga normal<\/li>\n\n\n\n<li>Tidak hitung tenaga kerja sendiri \u2014 untuk UMKM produksi di mana pemilik ikut produksi, waktu kerja kamu juga punya nilai biaya<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Template_Hitung_Laba_Kotor_Bulanan_per_Produk\"><\/span><strong>Template Hitung Laba Kotor Bulanan per Produk<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Copy dan isi tabel ini setiap akhir bulan untuk setiap produk utama di tokomu:<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table\"><table class=\"has-fixed-layout\"><tbody><tr><td><strong>Produk<\/strong><\/td><td><strong>Total Terjual<\/strong><\/td><td><strong>Pendapatan<\/strong><\/td><td><strong>Total HPP<\/strong><\/td><td><strong>Laba Kotor<\/strong><\/td><td><strong>Margin<\/strong><\/td><\/tr><tr><td>Produk A<\/td><td>&#8230; pcs<\/td><td>Rp&#8230;<\/td><td>Rp&#8230;<\/td><td>Rp&#8230;<\/td><td>&#8230;%<\/td><\/tr><tr><td>Produk B<\/td><td>&#8230; pcs<\/td><td>Rp&#8230;<\/td><td>Rp&#8230;<\/td><td>Rp&#8230;<\/td><td>&#8230;%<\/td><\/tr><tr><td>Produk C<\/td><td>&#8230; pcs<\/td><td>Rp&#8230;<\/td><td>Rp&#8230;<\/td><td>Rp&#8230;<\/td><td>&#8230;%<\/td><\/tr><tr><td><strong>Total<\/strong><\/td><td><\/td><td><strong>Rp&#8230;<\/strong><\/td><td><strong>Rp&#8230;<\/strong><\/td><td><strong>Rp&#8230;<\/strong><\/td><td><strong>&#8230;%<\/strong><\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dari tabel ini kamu bisa langsung melihat produk mana yang paling menguntungkan secara margin&nbsp; bukan sekadar paling laris.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pantau_Laba_Kotor_Tokomu_Otomatis_dengan_Tokpee\"><\/span><strong>Pantau Laba Kotor Tokomu Otomatis dengan Tokpee<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menghitung laba kotor manual setiap bulan memakan waktu, apalagi kalau kamu punya banyak produk dengan harga dan biaya yang berbeda-beda. Tokpee membantu kamu riset produk dan kategori yang punya potensi margin sehat sejak awal sebelum kamu memutuskan produk mana yang worth dijual di tokomu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Daripada hitung manual dan baru sadar margin tipis setelah terlanjur stok banyak, gunakan Tokpee untuk ambil keputusan berdasarkan data dari awal.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Kesimpulan\"><\/span><strong>Kesimpulan<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"455\" src=\"https:\/\/tokpee.co\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/image-81-1024x455.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-6860\" srcset=\"https:\/\/tokpee.co\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/image-81-1024x455.jpeg 1024w, https:\/\/tokpee.co\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/image-81-300x133.jpeg 300w, https:\/\/tokpee.co\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/image-81-768x342.jpeg 768w, https:\/\/tokpee.co\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/image-81-512x228.jpeg 512w, https:\/\/tokpee.co\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/image-81-920x409.jpeg 920w, https:\/\/tokpee.co\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/image-81.jpeg 1403w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Cara menghitung laba kotor sebenarnya tidak rumit, tetapi sangat penting untuk dipahami kalau kamu ingin bisnis berjalan sehat. Laba kotor adalah keuntungan setelah pendapatan dikurangi HPP, dengan rumus utama:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Laba Kotor = Pendapatan &#8211; HPP<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dari sini kamu bisa menilai apakah harga jual sudah masuk akal, apakah biaya langsung masih terkendali, dan apakah produk yang kamu jual punya margin yang layak. Hal yang paling penting adalah memisahkan HPP dan biaya operasional supaya hasil hitungan tidak bias.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Setelah paham cara menghitung laba kotor, langkah berikutnya adalah mengecek margin tiap produk dan melihat mana yang paling potensial untuk dikembangkan. Di tahap ini, tools seperti <a href=\"https:\/\/tokpee.co\/\">Tokpee<\/a> bisa digunakan sebagai pendukung riset produk dan kategori yang berpeluang menghasilkan margin sehat!<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"Banyak pemilik toko yang merasa tokonya ramai tapi bingung kenapa uang di rekening tidak pernah nambah. Penjualan tinggi,&hellip;","protected":false},"author":4,"featured_media":6859,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"csco_display_header_overlay":false,"csco_singular_sidebar":"","csco_page_header_type":"","footnotes":""},"categories":[138],"tags":[],"class_list":["post-5878","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","category-panduan-seller","cs-entry"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.1.1 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Cara Menghitung Laba Kotor untuk Pemilik Toko &amp; UMKM (Rumus + Contoh Nyata) - Tokpee Blog<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Cara menghitung laba kotor khusus untuk pemilik toko dan UMKM: rumus sederhana, contoh per jenis usaha, dan tabel benchmark margin.\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/tokpee.co\/blog\/cara-menghitung-laba-kotor\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Cara Menghitung Laba Kotor untuk Pemilik Toko &amp; UMKM (Rumus + Contoh Nyata) - Tokpee Blog\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Cara menghitung laba kotor khusus untuk pemilik toko dan UMKM: rumus sederhana, contoh per jenis usaha, dan tabel benchmark margin.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/tokpee.co\/blog\/cara-menghitung-laba-kotor\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Tokpee Blog\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-04-10T10:26:00+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-04-13T03:08:43+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/tokpee.co\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/image-80.jpeg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1024\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"572\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"coriena\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"coriena\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"8 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/tokpee.co\/blog\/cara-menghitung-laba-kotor\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/tokpee.co\/blog\/cara-menghitung-laba-kotor\/\"},\"author\":{\"name\":\"coriena\",\"@id\":\"https:\/\/tokpee.co\/blog\/#\/schema\/person\/40e3868368269cfee37bb923d6cfb61f\"},\"headline\":\"Cara Menghitung Laba Kotor untuk Pemilik Toko &#038; UMKM (Rumus + Contoh Nyata)\",\"datePublished\":\"2026-04-10T10:26:00+00:00\",\"dateModified\":\"2026-04-13T03:08:43+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/tokpee.co\/blog\/cara-menghitung-laba-kotor\/\"},\"wordCount\":1416,\"commentCount\":0,\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/tokpee.co\/blog\/cara-menghitung-laba-kotor\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/tokpee.co\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/image-80.jpeg\",\"articleSection\":[\"Panduan Seller\"],\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/tokpee.co\/blog\/cara-menghitung-laba-kotor\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/tokpee.co\/blog\/cara-menghitung-laba-kotor\/\",\"url\":\"https:\/\/tokpee.co\/blog\/cara-menghitung-laba-kotor\/\",\"name\":\"Cara Menghitung Laba Kotor untuk Pemilik Toko & UMKM (Rumus + Contoh Nyata) - Tokpee Blog\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/tokpee.co\/blog\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/tokpee.co\/blog\/cara-menghitung-laba-kotor\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/tokpee.co\/blog\/cara-menghitung-laba-kotor\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/tokpee.co\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/image-80.jpeg\",\"datePublished\":\"2026-04-10T10:26:00+00:00\",\"dateModified\":\"2026-04-13T03:08:43+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/tokpee.co\/blog\/#\/schema\/person\/40e3868368269cfee37bb923d6cfb61f\"},\"description\":\"Cara menghitung laba kotor khusus untuk pemilik toko dan UMKM: rumus sederhana, contoh per jenis usaha, dan tabel benchmark margin.\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/tokpee.co\/blog\/cara-menghitung-laba-kotor\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/tokpee.co\/blog\/cara-menghitung-laba-kotor\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/tokpee.co\/blog\/cara-menghitung-laba-kotor\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/tokpee.co\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/image-80.jpeg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/tokpee.co\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/image-80.jpeg\",\"width\":1024,\"height\":572,\"caption\":\"Cara Menghitung Laba Kotor\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/tokpee.co\/blog\/cara-menghitung-laba-kotor\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/tokpee.co\/blog\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Cara Menghitung Laba Kotor untuk Pemilik Toko &#038; UMKM (Rumus + Contoh Nyata)\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/tokpee.co\/blog\/#website\",\"url\":\"https:\/\/tokpee.co\/blog\/\",\"name\":\"Tokpee Blog\",\"description\":\"Tokpee: Meraih Sukses di Marketplace dengan Cerdas\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/tokpee.co\/blog\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/tokpee.co\/blog\/#\/schema\/person\/40e3868368269cfee37bb923d6cfb61f\",\"name\":\"coriena\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/tokpee.co\/blog\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/tokpee.co\/blog\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/foto-profile-148x148.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/tokpee.co\/blog\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/foto-profile-148x148.jpg\",\"caption\":\"coriena\"},\"description\":\"A psychology graduate who happens to love writing and reviewing things\",\"url\":\"https:\/\/tokpee.co\/blog\/author\/coriena\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Cara Menghitung Laba Kotor untuk Pemilik Toko & UMKM (Rumus + Contoh Nyata) - Tokpee Blog","description":"Cara menghitung laba kotor khusus untuk pemilik toko dan UMKM: rumus sederhana, contoh per jenis usaha, dan tabel benchmark margin.","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/tokpee.co\/blog\/cara-menghitung-laba-kotor\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Cara Menghitung Laba Kotor untuk Pemilik Toko & UMKM (Rumus + Contoh Nyata) - Tokpee Blog","og_description":"Cara menghitung laba kotor khusus untuk pemilik toko dan UMKM: rumus sederhana, contoh per jenis usaha, dan tabel benchmark margin.","og_url":"https:\/\/tokpee.co\/blog\/cara-menghitung-laba-kotor\/","og_site_name":"Tokpee Blog","article_published_time":"2026-04-10T10:26:00+00:00","article_modified_time":"2026-04-13T03:08:43+00:00","og_image":[{"width":1024,"height":572,"url":"https:\/\/tokpee.co\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/image-80.jpeg","type":"image\/jpeg"}],"author":"coriena","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"coriena","Est. reading time":"8 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/tokpee.co\/blog\/cara-menghitung-laba-kotor\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/tokpee.co\/blog\/cara-menghitung-laba-kotor\/"},"author":{"name":"coriena","@id":"https:\/\/tokpee.co\/blog\/#\/schema\/person\/40e3868368269cfee37bb923d6cfb61f"},"headline":"Cara Menghitung Laba Kotor untuk Pemilik Toko &#038; UMKM (Rumus + Contoh Nyata)","datePublished":"2026-04-10T10:26:00+00:00","dateModified":"2026-04-13T03:08:43+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/tokpee.co\/blog\/cara-menghitung-laba-kotor\/"},"wordCount":1416,"commentCount":0,"image":{"@id":"https:\/\/tokpee.co\/blog\/cara-menghitung-laba-kotor\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/tokpee.co\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/image-80.jpeg","articleSection":["Panduan Seller"],"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/tokpee.co\/blog\/cara-menghitung-laba-kotor\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/tokpee.co\/blog\/cara-menghitung-laba-kotor\/","url":"https:\/\/tokpee.co\/blog\/cara-menghitung-laba-kotor\/","name":"Cara Menghitung Laba Kotor untuk Pemilik Toko & UMKM (Rumus + Contoh Nyata) - Tokpee Blog","isPartOf":{"@id":"https:\/\/tokpee.co\/blog\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/tokpee.co\/blog\/cara-menghitung-laba-kotor\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/tokpee.co\/blog\/cara-menghitung-laba-kotor\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/tokpee.co\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/image-80.jpeg","datePublished":"2026-04-10T10:26:00+00:00","dateModified":"2026-04-13T03:08:43+00:00","author":{"@id":"https:\/\/tokpee.co\/blog\/#\/schema\/person\/40e3868368269cfee37bb923d6cfb61f"},"description":"Cara menghitung laba kotor khusus untuk pemilik toko dan UMKM: rumus sederhana, contoh per jenis usaha, dan tabel benchmark margin.","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/tokpee.co\/blog\/cara-menghitung-laba-kotor\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/tokpee.co\/blog\/cara-menghitung-laba-kotor\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/tokpee.co\/blog\/cara-menghitung-laba-kotor\/#primaryimage","url":"https:\/\/tokpee.co\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/image-80.jpeg","contentUrl":"https:\/\/tokpee.co\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/image-80.jpeg","width":1024,"height":572,"caption":"Cara Menghitung Laba Kotor"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/tokpee.co\/blog\/cara-menghitung-laba-kotor\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/tokpee.co\/blog\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Cara Menghitung Laba Kotor untuk Pemilik Toko &#038; UMKM (Rumus + Contoh Nyata)"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/tokpee.co\/blog\/#website","url":"https:\/\/tokpee.co\/blog\/","name":"Tokpee Blog","description":"Tokpee: Meraih Sukses di Marketplace dengan Cerdas","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/tokpee.co\/blog\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/tokpee.co\/blog\/#\/schema\/person\/40e3868368269cfee37bb923d6cfb61f","name":"coriena","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/tokpee.co\/blog\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/tokpee.co\/blog\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/foto-profile-148x148.jpg","contentUrl":"https:\/\/tokpee.co\/blog\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/foto-profile-148x148.jpg","caption":"coriena"},"description":"A psychology graduate who happens to love writing and reviewing things","url":"https:\/\/tokpee.co\/blog\/author\/coriena\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/tokpee.co\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5878","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/tokpee.co\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/tokpee.co\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/tokpee.co\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/tokpee.co\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5878"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/tokpee.co\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5878\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6862,"href":"https:\/\/tokpee.co\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5878\/revisions\/6862"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/tokpee.co\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/6859"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/tokpee.co\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5878"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/tokpee.co\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5878"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/tokpee.co\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5878"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}