Banyak seller gagal bukan karena produknya jelek, tapi karena memilih produk tanpa data. Produk terlihat viral, kompetitor ramai, atau harga tampak menarik, lalu langsung stok banyak.
Setelah dijual, ternyata demand kecil, margin tipis, kompetisi terlalu padat, atau produk hanya tren sesaat. Karena itu, riset produk perlu dilakukan sebelum mulai jualan online.
Riset produk membantu melihat apakah sebuah produk benar-benar punya peluang dijual, siapa kompetitornya, berapa kisaran harga pasar, apakah marginnya masuk, dan apakah trennya cukup stabil.
Di artikel ini, kamu akan belajar cara riset produk dari awal sampai siap mengambil keputusan jualan. Baca terus ya!
Apa Itu Riset Produk?
Riset produk adalah proses mencari, membandingkan, dan memvalidasi peluang produk sebelum dijual. Tujuannya bukan sekadar menemukan barang yang ramai dibicarakan, tetapi memastikan produk tersebut punya permintaan, kompetisi yang masih masuk akal, margin sehat, dan potensi dijual secara berkelanjutan.
Dalam riset produk, kamu perlu melihat beberapa data penting seperti demand, harga pasar, jumlah kompetitor, review pembeli, tren, margin, sampai perilaku calon pembeli. Jadi, riset produk bukan hanya soal mencari produk viral.
Produk viral memang bisa menarik perhatian, tapi belum tentu cocok untuk dijual dalam jangka panjang. Produk yang terlihat ramai hari ini bisa saja turun drastis minggu depan jika tidak punya permintaan yang stabil.
Kenapa Riset Produk Penting Sebelum Jualan Online?
Riset produk penting karena keputusan memilih barang jualan akan memengaruhi hampir semua aspek bisnis kamu: modal, stok, harga jual, promosi, margin, sampai strategi iklan.
Tanpa riset, kamu hanya menebak-nebak. Dengan riset, kamu bisa membuat keputusan berdasarkan data.
| Tanpa Riset Produk | Dengan Riset Produk |
| Pilih produk karena feeling | Pilih produk berdasarkan data |
| Ikut tren tanpa validasi | Cek tren dan demand dulu |
| Stok terlalu banyak di awal | Test stok kecil dulu |
| Perang harga dengan kompetitor | Cari celah positioning |
| Margin tidak dihitung | Margin dihitung sebelum jualan |
| Sulit membuat promosi | Promosi dibuat dari pain point pembeli |
Riset produk juga membantu menghindari modal tertahan di stok yang sulit bergerak. Ini penting, terutama kalau kamu masih seller pemula, reseller, dropshipper, UMKM, atau brand owner yang ingin masuk marketplace dengan risiko lebih terukur.
Framework Riset Produk: Demand, Competition, Margin, Trend
Sebelum memilih produk, jangan langsung bertanya, “Produk ini lagi laku nggak?” Pertanyaan itu terlalu dangkal.
Produk yang bagus bukan hanya produk yang banyak dicari. Produk yang layak dijual adalah produk yang punya demand, kompetisi masih bisa dimasuki, margin cukup, dan tren yang tidak terlalu berisiko.
Gunakan framework berikut:
| Faktor | Pertanyaan Utama | Cara Mengecek | Keputusan |
| Demand | Apakah produk ini dicari dan dibeli? | Marketplace, keyword, jumlah penjualan, review | Lanjut jika demand stabil |
| Competition | Apakah kompetisinya masih masuk akal? | Jumlah seller, harga, rating, toko besar | Hati-hati jika terlalu padat |
| Margin | Apakah masih untung? | Harga modal, ongkir, admin, iklan, retur | Lanjut jika margin sehat |
| Trend | Apakah produk naik, stabil, atau musiman? | Google Trends, marketplace, social media, Tokpee | Hindari stok besar untuk tren sesaat |
Framework ini membantu melihat produk secara lebih objektif. Jangan hanya tergoda karena produk sedang ramai di media sosial. Produk yang viral tapi marginnya tipis dan kompetisinya brutal tetap bisa jadi pilihan buruk.
Ingin riset produk marketplace lebih cepat? Dengan Tokpee, kamu bisa melihat data produk, kategori, toko kompetitor, produk trending, hingga detail produk di Shopee dan Tokopedia dalam satu platform!
Cara Riset Produk agar Tidak Salah Pilih Barang Jualan

Berikut langkah-langkah riset produk yang bisa kamu pakai sebelum mulai jualan online.
Tentukan Niche atau Kategori Produk
Mulailah dari kategori besar sebelum memilih produk spesifik. Misalnya skincare, fashion, aksesoris HP, perlengkapan rumah, makanan ringan, produk bayi, atau elektronik kecil.
Jangan langsung memilih satu produk hanya karena terlihat laku. Kamu perlu memahami dulu kategorinya: siapa pembelinya, seberapa besar demand-nya, bagaimana risiko operasionalnya, dan apakah kamu sanggup mengelolanya.
Seller pemula sebaiknya mulai dari kategori yang mudah dipahami dan tidak terlalu rumit secara operasional. Produk skincare mungkin punya demand tinggi, tetapi butuh perhatian pada legalitas, BPOM, klaim produk, dan kepercayaan pembeli.
Produk fashion punya pasar besar, tetapi kamu harus siap mengelola ukuran, warna, variasi, dan potensi retur.
Beberapa hal yang bisa kamu pertimbangkan saat memilih niche:
- Apakah kamu memahami produknya?
- Apakah modal awalnya masuk?
- Apakah supplier mudah ditemukan?
- Apakah produknya mudah dikirim?
- Apakah risiko retur atau komplainnya tinggi?
- Apakah kamu bisa membuat pembeda dari kompetitor?
Niche yang bagus bukan selalu niche yang paling ramai. Niche yang bagus adalah niche yang demand-nya ada, kompetisinya masih bisa dimasuki, dan operasionalnya sesuai kemampuan kamu.
Cek Demand Produk
Demand berarti ada orang yang mencari dan membeli produk tersebut. Ini penting karena produk yang terlihat menarik belum tentu punya pasar.
Kamu bisa mengecek demand dari beberapa sinyal, seperti hasil pencarian marketplace, autocomplete keyword, jumlah produk terjual, jumlah review, dan seberapa sering produk serupa muncul di toko kompetitor.
| Sinyal Demand | Artinya |
| Banyak produk terjual | Produk punya pembeli aktif |
| Review terus bertambah | Ada transaksi berulang |
| Banyak query pencarian | Ada minat dari calon pembeli |
| Produk muncul di banyak toko | Kategori punya pasar |
| Kompetitor rutin restock | Produk masih bergerak |
Jangan hanya mengandalkan jumlah views atau viral di media sosial. Produk bisa terlihat ramai karena kontennya menarik, bukan karena orang benar-benar ingin membeli.
Cara yang lebih aman adalah membandingkan beberapa indikator sekaligus. Kalau produk punya pencarian tinggi, penjualan stabil, review terus bertambah, dan kompetitor masih aktif restock, itu sinyal demand yang lebih kuat.
Untuk melihat demand berdasarkan keyword di marketplace tertentu, kamu bisa membaca panduan riset permintaan produk Tokopedia lewat kata kunci.
Analisis Kompetitor
Setelah tahu produk punya demand, langkah berikutnya adalah melihat kompetitornya.
Cari seller yang menjual produk serupa. Perhatikan harga jual, jumlah terjual, rating, review, foto produk, deskripsi, variasi, bundle, promo, dan cara mereka memosisikan produk.
| Data Kompetitor | Kenapa Penting |
| Harga jual | Menentukan range harga pasar |
| Jumlah terjual | Mengukur demand |
| Rating dan review | Melihat kepuasan pembeli |
| Komplain pembeli | Menemukan celah produk |
| Variasi produk | Mengetahui varian yang diminati |
| Promo atau bundle | Mengetahui strategi penawaran |
Yang perlu kamu ingat: jangan hanya membandingkan diri dengan toko besar. Kalau semua kompetitor teratas adalah official store, punya ribuan review, harga sangat murah, dan iklan agresif, masuk ke produk itu akan lebih sulit.
Cari juga kompetitor yang masih setara dengan posisi kamu. Misalnya toko baru, toko menengah, atau seller dengan jumlah penjualan yang belum terlalu dominan.
Dari situ, kamu bisa menilai apakah masih ada celah masuk.
Baca Review untuk Menemukan Pain Point Pembeli
Banyak seller hanya melihat rating, lalu berhenti di situ. Review produk adalah sumber insight yang sangat berharga.
Review positif menunjukkan alasan orang membeli. Review negatif menunjukkan masalah yang bisa kamu jadikan celah untuk membuat produk, penawaran, atau komunikasi yang lebih baik.
| Isi Review | Insight | Ide Action |
| “Bahannya tipis” | Kualitas jadi masalah | Cari bahan lebih tebal |
| “Warnanya beda dari foto” | Ekspektasi visual tidak sesuai | Perbaiki foto dan deskripsi |
| “Ukurannya kecil” | Sizing tidak jelas | Tambahkan size chart |
| “Cepat rusak” | Ada peluang produk premium | Jual versi lebih awet |
| “Pengiriman lama” | Masalah operasional | Cari supplier atau gudang lebih cepat |
Misalnya kamu ingin menjual inner hijab. Dari review kompetitor, kamu menemukan banyak pembeli mengeluh bahannya panas, terlalu ketat, atau mudah melar.
Ini bisa menjadi angle jualan: bahan lebih adem, ukuran lebih nyaman, dan elastisitas lebih awet.
Review juga bisa membantumu membuat copywriting. Daripada menulis deskripsi generik seperti “produk berkualitas tinggi”, kamu bisa menulis manfaat yang lebih spesifik: “bahan adem untuk dipakai seharian” atau “tidak mudah melar meski sering dicuci”.
Cek Harga dan Margin
Produk laris belum tentu menguntungkan. Sebelum memilih produk, hitung semua biaya yang berhubungan dengan penjualan.
Jangan hanya menghitung harga modal dan harga jual. Kamu juga perlu memasukkan biaya marketplace, ongkir subsidi, iklan, diskon, packaging, retur, dan komisi jika ada.
Rumus sederhananya:
Margin bersih = Harga jual – modal produk – biaya marketplace – packaging – iklan – retur/biaya lain
Contoh sederhana:
| Komponen | Nilai |
| Harga jual | Rp75.000 |
| Modal produk | Rp40.000 |
| Biaya marketplace | Rp4.000 |
| Packaging | Rp2.000 |
| Estimasi iklan | Rp8.000 |
| Estimasi retur/biaya lain | Rp3.000 |
| Margin bersih | Rp18.000 |
Kalau margin terlalu tipis, kamu akan sulit bertahan saat harus memberi diskon, membayar iklan, atau menghadapi retur.
Produk seperti ini biasanya hanya cocok untuk seller yang punya volume besar, supplier kuat, atau efisiensi operasional tinggi.
Cek Tren Produk
Tidak semua produk laku punya karakter yang sama. Ada produk evergreen, seasonal, viral, dan trend naik.
| Jenis Produk | Ciri-ciri | Risiko |
| Evergreen | Dibutuhkan terus | Kompetisi stabil dan banyak |
| Seasonal | Naik di momen tertentu | Demand turun setelah musim selesai |
| Viral | Cepat ramai di sosial media | Risiko stok mati tinggi |
| Trend naik | Demand bertahap meningkat | Butuh timing masuk yang tepat |
Produk evergreen seperti perlengkapan rumah, kebutuhan bayi, atau produk perawatan dasar biasanya lebih stabil. Namun, kompetisinya juga cenderung banyak.
Produk seasonal seperti hampers Lebaran, jas hujan, atau perlengkapan sekolah bisa menghasilkan penjualan tinggi di periode tertentu, tetapi demand-nya turun setelah musim selesai.
Produk viral lebih berisiko. Bisa cepat naik, tetapi juga cepat mati. Kalau kamu telat masuk dan stok terlalu banyak, barang bisa menumpuk.
Kalau fokusmu adalah mencari produk yang sedang naik daun, baca juga panduan khusus cara riset produk trending di Shopee.
Cek Varian Produk yang Paling Laku
Banyak seller hanya memilih produk, tapi lupa mengecek varian. Padahal dalam banyak kategori, varian bisa menentukan apakah stok cepat bergerak atau justru menumpuk.
Varian bisa berupa warna, ukuran, paket, bahan, rasa, model, kapasitas, atau tipe perangkat.
Contohnya, produk inner hijab mungkin terlihat laku. Namun, warna hitam, nude, dan milo bisa jauh lebih cepat terjual dibanding warna lain.
Kalau kamu salah memilih varian, produk yang sebenarnya punya demand tetap bisa menjadi stok mati.
Begitu juga casing HP. Demand sangat bergantung pada tipe HP.
Model casing yang laku untuk iPhone terbaru belum tentu laku untuk model Android lama. Jadi, kamu perlu melihat varian mana yang benar-benar bergerak.
Tools marketplace bisa membantu melihat detail produk dan varian yang lebih diminati sehingga kamu tidak hanya menebak dari tampilan listing.
Validasi Produk Sebelum Stok Banyak
Setelah menemukan kandidat produk, jangan langsung beli stok besar.
Buat shortlist 5–10 produk, lalu pilih 1–3 produk paling potensial untuk diuji. Kamu bisa mulai dari stok kecil, sistem preorder, atau test campaign kecil untuk melihat respons pasar.
| Tahap Validasi | Tujuan |
| Shortlist produk | Membandingkan beberapa peluang |
| Cek demand | Menghindari produk tanpa pasar |
| Cek kompetitor | Melihat tingkat persaingan |
| Hitung margin | Menghindari rugi |
| Test stok kecil | Mengurangi risiko |
| Evaluasi data | Menentukan lanjut atau stop |
Saat validasi, ukur beberapa metrik penting seperti CTR, conversion rate, jumlah penjualan, komplain, repeat order, dan biaya iklan jika kamu menjalankan promosi.
Kalau produk mendapat klik tinggi tapi penjualan rendah, mungkin masalahnya ada di harga, foto, deskripsi, atau kepercayaan toko. Saat produk terjual tapi banyak komplain, mungkin kualitas barang atau ekspektasi pembeli belum sesuai.
Validasi kecil jauh lebih aman daripada langsung menaruh banyak modal di produk yang belum terbukti.
Gunakan Tools Riset Produk untuk Mempercepat Analisis
Riset manual bisa dilakukan, tapi prosesnya lama. Kamu harus membuka banyak listing, mencatat harga, melihat kompetitor, membaca review, membandingkan produk, lalu membuat spreadsheet sendiri.
Tools riset produk membantu mempercepat proses tersebut.
| Aktivitas | Manual | Dengan Tools Riset Produk |
| Cari produk laris | Buka marketplace satu-satu | Filter produk berdasarkan data |
| Cek kompetitor | Cek toko manual | Analisis toko kompetitor |
| Cek tren | Gabung data manual | Lihat produk atau kategori yang naik |
| Cek varian | Buka listing satu per satu | Lihat detail produk dan varian |
| Bandingkan peluang | Spreadsheet manual | Data lebih terstruktur |
Tokpee bisa membantu seller menganalisis produk, kategori, toko kompetitor, produk trending, hingga detail produk berdasarkan data Shopee dan Tokopedia.
Namun, tools tetap harus dipakai sebagai alat bantu keputusan, bukan pengganti strategi. Data bisa menunjukkan peluang, tetapi kamu tetap perlu menilai supplier, positioning, margin, kapasitas operasional, dan kemampuan promosi.
Contoh Riset Produk
Agar lebih mudah dipahami, berikut beberapa contoh riset produk dari beberapa kategori.
Contoh 1: Skincare
Kandidat produk: serum jerawat. Demand untuk produk skincare, terutama yang berkaitan dengan jerawat, biasanya tinggi karena problem-nya evergreen.
Banyak orang terus mencari solusi untuk jerawat, bekas jerawat, kulit berminyak, atau tekstur kulit. Namun, kompetisinya juga tinggi.
Ada banyak brand besar, seller marketplace, reseller, dan produk impor yang bermain di kategori ini.
Dari sisi margin, skincare bisa menarik karena produk kecil, mudah dikirim, dan harga jualnya bisa cukup tinggi. Tapi risikonya juga besar.
Kamu harus memperhatikan legalitas, BPOM, klaim produk, keamanan bahan, dan kepercayaan pembeli.
Review insight yang bisa dicari:
- Pembeli suka tekstur ringan.
- Banyak yang mencari produk tidak lengket.
- Ada demand untuk kulit sensitif.
- Pembeli sering kecewa jika hasil tidak sesuai klaim.
- Kepercayaan terhadap brand sangat penting.
Keputusan: produk ini layak diuji jika kamu punya supplier jelas, legalitas aman, positioning kuat, dan diferensiasi yang nyata. Kalau hanya menjual produk generik tanpa pembeda, risikonya tinggi.
Contoh 2: Fashion Muslim
Kandidat produk: inner hijab atau ciput. Demand produk ini cenderung stabil karena termasuk kebutuhan rutin untuk sebagian pembeli.
Selain itu, demand bisa meningkat menjelang Ramadan dan Lebaran. Kompetisinya tinggi, tetapi masih ada peluang jika kamu bisa menemukan varian yang tepat.
Misalnya bahan lebih adem, tidak mudah melar, warna netral lengkap, ukuran nyaman, atau paket bundling.
Varian sangat penting di kategori ini. Warna hitam, nude, cream, milo, dan warna netral biasanya lebih aman diuji terlebih dahulu dibanding warna yang terlalu spesifik.
Review insight yang bisa dicari:
- Bahan panas atau tidak.
- Ukuran terlalu ketat atau longgar.
- Jahitan rapi atau tidak.
- Warna sesuai foto atau tidak.
- Produk nyaman dipakai seharian atau tidak.
Keputusan: produk ini layak diuji jika kamu punya varian yang tepat, kualitas stabil, dan positioning jelas. Misalnya “inner hijab adem untuk pemakaian harian” atau “ciput nyaman anti pusing”.
Contoh 3: Aksesoris HP
Kandidat produk: casing HP model terbaru. Demand aksesoris HP sangat bergantung pada model perangkat.
Saat ada HP baru yang populer, demand casing biasanya ikut naik. Kompetisi di kategori ini cepat berubah.
Seller yang masuk lebih awal bisa mendapat momentum lebih baik. Namun, risikonya juga tinggi karena stok bisa mati jika model HP tidak sepopuler perkiraan.
Margin casing HP bisa cukup menarik, terutama jika kamu menjual desain unik, bundle, atau varian premium. Tapi kalau masuk ke produk generik yang sama dengan banyak seller lain, perang harga akan sulit dihindari.
Review insight yang bisa dicari:
- Casing terlalu longgar atau terlalu ketat.
- Lubang kamera tidak presisi.
- Bahan cepat menguning.
- Desain tidak sesuai foto.
- Produk tidak kompatibel dengan tipe tertentu.
Keputusan: produk ini cocok untuk seller yang cepat membaca tren, teliti memilih varian, dan tidak menumpuk stok terlalu besar di awal.
Produk yang Layak Dijual vs Produk yang Berisiko
Agar lebih mudah mengambil keputusan, gunakan tabel berikut untuk membandingkan produk yang layak dijual dan produk yang berisiko.
| Sinyal | Produk Layak Dijual | Produk Berisiko |
| Demand | Penjualan stabil | Hanya ramai sesaat |
| Kompetisi | Ada kompetitor, tapi masih bisa masuk | Didominasi toko besar dan perang harga |
| Margin | Masih untung setelah semua biaya | Margin tipis |
| Review | Ada pain point yang bisa diperbaiki | Banyak komplain fatal |
| Tren | Stabil atau naik bertahap | Viral mendadak tanpa data |
| Supply | Supplier stabil | Stok sulit dan harga berubah |
| Varian | Ada varian yang jelas diminati | Terlalu banyak varian tanpa data |
Produk yang layak dijual tidak harus sempurna. Kadang produk dengan kompetisi sedang tapi punya pain point jelas justru lebih menarik daripada produk yang terlihat sangat laku tetapi sudah dikuasai toko besar.
Yang perlu kamu cari adalah celah: celah kualitas, celah varian, celah pelayanan, celah bundling, atau celah positioning.
Kesalahan Umum Saat Riset Produk

Hanya Ikut Produk Viral
Produk viral memang menggoda, tapi tidak selalu aman. Kalau data penjualannya belum stabil, jangan langsung stok besar.
Tidak Cek Demand
Produk yang menurut kamu bagus belum tentu dicari pembeli. Demand harus dibuktikan dari data pencarian, penjualan, review, dan aktivitas kompetitor.
Tidak Analisis Kompetitor
Kalau kamu masuk ke pasar yang sudah dikuasai toko besar tanpa pembeda, kamu akan sulit bersaing. Jangan hanya lihat produknya, lihat juga siapa yang sudah menjualnya.
Tidak Hitung Margin
Produk laris tapi margin tipis bisa membuat bisnis terlihat ramai tapi tidak sehat. Hitung semua biaya sebelum mulai jualan.
Tidak Membaca Review Negatif
Review negatif sering berisi celah paling berharga. Dari sana, kamu bisa menemukan masalah yang belum diselesaikan kompetitor.
Stok Terlalu Banyak di Awal
Jangan terlalu percaya diri sebelum produk diuji. Test kecil dulu, baru tambah stok jika datanya bagus.
Mengabaikan Varian
Salah memilih warna, ukuran, rasa, atau tipe bisa membuat stok menumpuk meskipun produknya punya demand.
Tidak Punya Pembeda
Kalau produk, foto, harga, dan deskripsi kamu sama seperti kompetitor, alasan pembeli memilih toko kamu jadi lemah.
Mengira Produk Laris Cocok untuk Semua Seller
Produk yang cocok untuk toko besar belum tentu cocok untuk seller pemula. Kapasitas modal, supplier, iklan, dan operasional sangat berpengaruh.
Tidak Memakai Data Marketplace
Marketplace menyimpan banyak sinyal penting: produk terjual, review, harga, toko kompetitor, varian, dan tren kategori. Mengabaikan data ini membuat keputusan kamu terlalu bergantung pada feeling.
Kapan Harus Lanjut, Test Kecil, atau Skip Produk?
Riset produk seharusnya berakhir pada keputusan. Jangan hanya mengumpulkan data tanpa menentukan langkah.
Gunakan tabel berikut sebagai panduan.
| Kondisi Produk | Keputusan |
| Demand tinggi, kompetisi masuk akal, margin sehat | Lanjut test |
| Demand tinggi, kompetisi tinggi, margin tipis | Hati-hati, cari diferensiasi |
| Demand rendah, margin tinggi | Test kecil atau skip |
| Viral cepat, data penjualan belum stabil | Jangan stok besar |
| Banyak komplain fatal di review | Cari supplier atau produk lain |
| Produk laris tapi didominasi toko besar | Cari niche atau varian berbeda |
| Trend naik dan kompetisi belum padat | Prioritas untuk diuji |
Keputusan terbaik tidak selalu “lanjut” atau “skip”. Kadang produk masih bisa diuji, tetapi dengan stok kecil, angle berbeda, atau varian yang lebih spesifik.
Misalnya produk punya demand tinggi tapi kompetisi padat. Kamu tidak harus langsung mundur.
Kamu bisa mencari celah seperti bundle, kualitas lebih baik, target pembeli lebih spesifik, foto lebih jelas, atau varian yang belum banyak dijual.
Sebaliknya, kalau produk terlihat viral tetapi datanya belum stabil, jangan buru-buru stok banyak. Gunakan test kecil dulu.
Cara Menggunakan Tokpee dalam Proses Riset Produk

Tokpee bisa digunakan setelah kamu punya daftar kandidat produk. Dengan data marketplace, kamu bisa membandingkan produk mana yang punya penjualan lebih stabil, kompetitor seperti apa yang sudah masuk, varian mana yang paling diminati, dan apakah produk tersebut masih punya peluang untuk diuji.
Workflow sederhananya seperti ini:
Cari kategori → cek produk laris → analisis kompetitor → cek detail produk → cek varian → bandingkan margin → validasi produk → test jualan
Dalam proses riset, Tokpee dapat membantu kamu melihat data seperti:
- riset pencarian dan kategori,
- produk yang sedang laku,
- toko kompetitor,
- detail produk,
- produk trending,
- data omzet,
- data penjualan,
- konversi,
- varian produk,
- review atau komplain jika tersedia.
Misalnya, kamu ingin masuk ke kategori fashion muslim. Kamu bisa mulai dari melihat kategori, mencari produk yang penjualannya stabil, membandingkan toko kompetitor, lalu mengecek varian yang paling diminati.
Setelah itu, kamu bisa menghitung margin dan menentukan apakah produk layak diuji dengan stok kecil. Tokpee bukan sekadar alat untuk mencari produk yang ramai.
Lebih dari itu, Tokpee bisa membantu mengambil keputusan berdasarkan data marketplace, bukan hanya feeling. Coba gunakan Tokpee untuk mempercepat proses riset produk Shopee dan Tokopedia sebelum menentukan stok.
Kesimpulan
Riset produk membantu memilih produk berdasarkan data, bukan sekadar feeling. Sebelum mulai jualan online, kamu perlu mengecek demand, kompetitor, margin, tren, review, dan varian produk.
Produk yang bagus bukan hanya produk yang terlihat laku. Produk yang layak dijual harus punya demand yang jelas, kompetisi yang masih masuk akal, margin sehat, dan tren yang tidak terlalu berisiko.
Jangan hanya ikut produk viral. Validasi dulu sebelum stok banyak. Buat shortlist, cek data marketplace, analisis kompetitor, baca review, hitung margin, lalu test kecil sebelum mengambil keputusan besar.
Sebelum stok produk, pastikan kamu sudah mengecek demand, kompetitor, tren, margin, dan varian yang paling diminati. Dengan Tokpee, proses riset produk marketplace bisa dilakukan lebih cepat dan berbasis data, sehingga kamu tidak hanya memilih produk berdasarkan feeling.
