Cara Menghitung Harga Produk Impor Cara Menghitung Harga Produk Impor

8 Cara Menghitung Harga Produk Impor agar Tidak Rugi dan Tetap Kompetitif

Cara menghitung harga produk impor harus memperhitungkan harga barang, biaya pengiriman, pajak impor, hingga fluktuasi kurs. Dengan perhitungan yang rapi, kamu bisa menentukan harga jual yang aman tanpa mengorbankan margin. Di artikel Tokpee hari ini, kita akan membahas cara menghitung harga produk impor dan info menarik lainnya lagi supaya bisnismu lebih siap bersaing di pasar!

Bagaimana Cara Menghitung Harga Produk Impor?

Tertarik untuk berbisnis yang melibatkan produk impor? Wajar banget. Produk impor sering dianggap punya nilai lebih. 

Baik itu karena kualitas, brand image, atau karena produknya belum banyak di pasaran lokal. Tapi di balik peluangnya, bisnis impor juga punya tantangan besar: salah hitung biaya bisa langsung bikin rugi.

Banyak pebisnis pemula yang cuma fokus ke harga beli dari supplier luar negeri, lalu lupa menghitung biaya lain yang “muncul belakangan”. Akibatnya, saat barang sampai gudang, modal sudah membengkak dan harga jual jadi serba salah. 

Di artikel Tokpee hari ini, kita akan bahas cara menghitung harga produk impor yang mudah dipahami, yuk langsung aja!

Pada dasarnya, harga produk impor bukan cuma soal “harga barang × kurs”. Ada beberapa komponen penting yang harus kamu masukkan agar angka akhirnya benar-benar mencerminkan biaya riil. 

Berikut langkah-langkah yang bisa kamu jadikan panduan.

Hitung Harga Barang dari Supplier (Cost of Goods)

Langkah pertama tentu menentukan harga beli barang dari supplier luar negeri. Biasanya harga ini tercantum dalam mata uang asing, seperti USD, CNY, atau KRW.

Baca Artikel Lainnya  Cara Menghitung HPP Perusahaan Manufaktur dengan Benar

Misalnya:

  • Harga barang dari supplier: USD 10 per unit
  • Jumlah pembelian: 100 unit
  • Total harga barang = USD 1.000

Di tahap ini, pastikan kamu sudah jelas apakah harga tersebut:

  • FOB (Free on Board) → supplier hanya tanggung biaya sampai pelabuhan asal
  • CIF (Cost, Insurance, Freight) → sudah termasuk asuransi dan ongkir ke pelabuhan tujuan

Jenis harga ini akan berpengaruh ke perhitungan biaya selanjutnya.

Perhitungkan Kurs yang Digunakan

Kesalahan umum pebisnis impor adalah memakai kurs “terlalu optimis”. Padahal, yang sebaiknya dipakai adalah kurs jual bank atau kurs pajak, bukan kurs tengah Google.

Contoh:

  • Kurs yang kamu pakai: Rp16.000/USD
  • Total harga barang: USD 1.000

Artinya, nilai barang dalam rupiah = 1.000 × 16.000 = Rp16.000.000

Tips penting: selalu sisipkan buffer kurs (misalnya 2–5%) untuk mengantisipasi fluktuasi nilai tukar, terutama jika proses impor memakan waktu lama.

Tambahkan Biaya Pengiriman Internasional

Biaya pengiriman impor bisa bervariasi tergantung beberapa hal berikut:

  • Jalur pengiriman (laut, udara, atau darat)
  • Berat dan volume barang
  • Negara asal

Misalnya nih, ongkir internasional (freight) sebesar Rp5.000.000. Jika harga dari supplier masih FOB, maka ongkir ini wajib kamu tambahkan ke total biaya. 

Di sinilah banyak pebisnis mulai “kaget” karena biaya logistik sering kali tidak kecil, terutama untuk barang bulky atau berat.

Hitung Bea Masuk dan Pajak Impor

Ini bagian krusial dalam cara menghitung harga produk impor. Ketika barang masuk ke Indonesia, ada beberapa pungutan yang biasanya dikenakan:

Bea Masuk (BM)

Besarnya tergantung jenis barang dan HS Code. Bisa 0%, 5%, 10%, atau lebih.

PPN Impor

Umumnya 11% dari nilai impor.

PPh Impor

Biasanya 2,5% (jika punya NPWP) atau lebih tinggi jika tidak.

Contoh perhitungan sederhana:

  • Nilai impor (CIF): Rp21.000.000
  • Bea masuk 10%: Rp2.100.000
  • PPN 11%: Rp2.541.000
  • PPh impor 2,5%: Rp525.000
  • Total pajak & bea impor ≈ Rp5.166.000
Baca Artikel Lainnya  Cara Buat Invoice di Excel yang Gampang dan Praktis Buat Semua Bisnis!

Angka ini wajib dimasukkan ke modal, bukan dianggap “biaya nanti”.

Tambahkan Biaya Lokal & Operasional

Setelah barang lolos bea cukai, masih ada biaya lain yang sering terlupakan, seperti:

  • Biaya customs clearance & handling
  • Biaya gudang & bongkar muat
  • Ongkir dari pelabuhan ke gudang/toko
  • Biaya packaging ulang atau labeling

Misalnya, total biaya lokal mencapai Rp2.000.000. Walaupun terlihat kecil dibanding biaya impor, kalau tidak dihitung dari awal, margin kamu bisa tergerus pelan-pelan.

Hitung Total Biaya Impor per Unit

Sekarang kita rangkum semua biaya:

  • Harga barang (rupiah): Rp16.000.000
  • Ongkir internasional: Rp5.000.000
  • Pajak & bea impor: Rp5.166.000
  • Biaya lokal: Rp2.000.000
  • Total biaya impor = Rp28.166.000

Kalau jumlah barangnya 100 unit:

Biaya per unit = Rp28.166.000 ÷ 100 = Rp281.660

Inilah harga pokok produk impor per unit, bukan sekadar harga beli dari supplier.

Tentukan Margin dan Harga Jual

Langkah terakhir adalah menentukan margin keuntungan. Besarnya tergantung strategi bisnismu:

  • Produk mass market → margin bisa lebih tipis
  • Produk niche atau premium → margin bisa lebih besar

Contohnya seperti ini:

  • Target margin: 40%
  • Rumus sederhana:
  • Harga Jual = Harga Pokok / (1 – Margin)
  • Harga jual = 281.660 / (1 – 0,4)
  • Harga jual ≈ Rp469.000

Kamu bisa sesuaikan jadi Rp459.000 atau Rp479.000 sesuai strategi harga dan psikologi konsumen.

Sisipkan Buffer Risiko

Dalam bisnis impor, buffer itu wajib, bukan opsional. Sisipkan margin tambahan untuk:

  • Barang rusak atau hilang
  • Keterlambatan pengiriman
  • Perubahan aturan atau tarif

Biasanya, pebisnis menyisihkan 3–10% dari total biaya sebagai cadangan risiko. Kalau aman, itu jadi bonus margin. Kalau terjadi masalah, bisnis tetap selamat.

Kesimpulan

Cara menghitung harga produk impor tidak bisa dilakukan secara setengah-setengah. Kamu perlu memasukkan seluruh komponen biaya, mulai dari harga barang, kurs, ongkir internasional, bea dan pajak impor, hingga biaya lokal dan operasional. 

Dengan memperhatikan semua aspek di atas, angka harga pokok yang kamu dapat benar-benar mencerminkan modal sesungguhnya.

Setelah itu, barulah kamu menentukan margin dan harga jual yang realistis serta kompetitif. Jangan lupa sisipkan buffer risiko agar bisnis tetap aman menghadapi fluktuasi kurs dan kendala pengiriman. 

Dengan perhitungan yang matang sejak awal, bisnis produk impor bukan cuma terlihat menjanjikan, tapi juga benar-benar menguntungkan dalam jangka panjang!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Special offer

Dapatkan Tool Riset Produk Laris untuk Lejitkan Bisnis

Lihat cara kami riset produk untuk tingkatkan penjualan toko online. 👇
DOWNLOAD NOW
close-link