Cara Menentukan Bundling Produk Berdasarkan Data Pesanan Cara Menentukan Bundling Produk Berdasarkan Data Pesanan

8 Cara Menentukan Bundling Produk Berdasarkan Data Pesanan

Bundling yang bagus itu bukan paket lucu-lucuan, tapi paket yang memang dibutuhkan pembeli dan terbukti lewat riwayat transaksi.

Dengan melihat data pesanan, kamu bisa paham produk mana yang sering dibeli bareng, siapa pembeli yang paling sering repeat order, dan paket seperti apa yang paling berpotensi menaikkan nilai transaksi.

Di artikel Tokpee ini, kita bahas cara menentukan bundling produk berdasarkan data pesanan dari nol sampai siap dieksekusi.

Cara Menentukan Bundling Produk Berdasarkan Data Pesanan

Bundling produk memang salah satu strategi yang paling gampang bikin calon pembeli mikir, “Sekalian aja deh.” Tapi ya, kalau bundlingnya asal, efeknya bisa zonk.

Margin kepotong, produk jadi makin susah laku, atau pembeli malah bingung karena paketnya nggak relevan. Makanya, bundling yang paling aman itu bundling yang berangkat dari data pesanan, bukan dari feeling.

Secara konsep, product bundling adalah strategi mengelompokkan dua atau lebih produk jadi satu paket dan dijual dengan satu harga yang lebih hemat dibanding beli satuan. 

Dengan package deals, bundling biasanya mendorong orang untuk beli lebih banyak dalam satu kali transaksi, yang efek dominonya bisa menaikkan nilai pesanan rata-rata dan penjualan.

Nah, sekarang gimana cara nyambunginnya ke data pesanan?

Tentukan dulu tujuan bundlingnya

Bundling bisa dipakai untuk beberapa tujuan yang berbeda:

  • Meningkatkan AOV (nilai pesanan rata-rata): pembeli yang tadinya beli satu item, jadi ambil paket sekalian.
  • Hemat biaya promosi & distribusi: kamu promosikan satu paket, bukan satu-satu produknya, dan pengiriman bisa lebih efisien.
  • Ngabisin stok slow-moving/stok mati: produk yang jalannya pelan dipaketin bareng produk yang lebih kenceng.

Kalau tujuanmu beda, cara memilih kombinasi produknya juga beda. Jadi mulai dari sini dulu, biar kamu nggak salah arah.

Ambil produk dari data pesanan

Ambil data pesanan minimal 30 hari, kalau bisnismu musiman, ambil 60–90 hari biar kebaca polanya. Yang kamu butuhkan itu bukan data rumit, cukup yang bisa menjawab pertanyaan ini:

  • Produk apa yang paling sering terjual?
  • Produk apa yang sering muncul barengan dalam satu order?
  • Produk mana yang jarang keambil tapi sebenarnya bisa “nebeng” best-seller?
  • Pembeli tipe grosir/repeat order beli paket seperti apa?
Baca Artikel Lainnya  9 Strategi Digital Marketing yang Efektif untuk Meningkatkan Penjualan

Kalau kamu punya export order dari marketplace/website/ERP, itu sudah cukup. Bonus kalau ada kolom kuantitas, total pembayaran, dan waktu order.

Cari kombinasi produk yang sering dibeli bersama

Tipe bundling yang paling aman untuk e-commerce biasanya mixed bundling. Produk bisa dibeli satuan, tapi ada diskon kalau beli bareng.

Dan mixed bundling ini idealnya disusun dari pola pesanan historis, produk yang memang sering kebeli dalam satu transaksi.

Contoh yang gampang:

  • pembeli yang beli “kemeja vintage” sering sekalian ambil “inner basic”
  • yang beli “serum” sering sekalian “moisturizer”
  • yang beli “kopi sachet” sering sekalian “gula aren” atau “creamer”

Caranya biar kebaca tanpa pusing:

  1. Kelompokkan order berdasarkan Order ID
  2. Lihat pasangan produk yang paling sering muncul barengan
  3. Prioritaskan 10 kombinasi teratas untuk diuji jadi paket

Kalau mau lebih rapi, kamu bisa pakai Pivot Table sederhana dengan mengisi Order ID sebagai baris, SKU sebagai nilai dan indikator. 

Gabungkan cross-sell bundling yang masuk akal

Selain sering dibeli bareng, strategi yang klasik dan kuat adalah cross-sell bundling dengan menggabungkan dua produk berbeda yang saling melengkapi.

Ini cocok banget kalau data pesananmu menunjukkan pembeli sering membeli produk utama dan aksesoris pendamping. Contoh:

  • Botol minum + sikat botol
  • Skincare: cleanser + toner + sunscreen
  • Perlengkapan bayi: botol susu + sikat botol + sabun khusus

Bundling tipe ini biasanya terasa natural di mata pembeli karena paketnya menyelesaikan kebutuhan, bukan maksa mereka beli.

Bawa ikut produk yang kurang laku

Kalau kamu punya produk yang nggak laku-laku, bundling bisa jadi solusi cepat. Gabungkan produk slow-moving dengan produk yang permintaannya lebih tinggi.

Tapi kuncinya, jangan asal menggabungkan. Gunakan data pesanan untuk mencari slow-mover yang:

  • masih relevan dengan best-seller (kategori nyambung),
  • nilainya nggak “ngeganggu” harga bundle,
  • dan bukan produk yang sering dikomplain (ini penting biar bundle nggak ikut kena bintang satu).
Baca Artikel Lainnya  Mau Passive Income? Pelajari Cara Jualan Produk Digital di Lynk!

Kamu bisa posisikan slow-mover sebagai bonus atau add-on hemat supaya persepsi nilai paketnya naik. Bundling bisa membantu ketika ada produk yang tidak terjual secepat yang diinginkan dengan menggabungkannya bersama produk yang lebih cepat laku.

Pilih tipe bundling sesuai karakter produk

Beberapa opsi tipe bundling yang umum:

  • Mixed bundling: bisa beli satuan, tapi lebih hemat kalau beli paket.
  • Pure bundling: hanya bisa dibeli sebagai paket, cocok untuk paket layanan/produk tertentu.
  • Same-product bundling: diskon kalau beli jumlah banyak produk yang sama, sering dipakai untuk poduk kebutuhan rutin.

Untuk marketplace yang pembelinya suka kebebasan pilih varian, mixed bundling dan same-product bundling biasanya lebih aman duluan.

Tentukan harga bundle yang terasa lebih hemat

Kalau paketmu tidak terasa lebih hemat dibanding beli satuan, pembeli akan tetap beli produk satuan, apalagi kalau mereka sudah mengerti harga pasaran.

Kamu harus pastikan harga bundling memang lebih rendah daripada total harga satuan karena konsumen memilih bundling kalau benar-benar menghemat.

Praktiknya, kamu bisa pakai cara cepat:

  • Hitung total harga satuan
  • Tentukan diskon bundle yang masih aman untuk margin (mis. 5–15%, tergantung kategori)
  • Cek ulang biaya tambahan: packing, ongkir subsidi, biaya platform, dan potensi retur

Kalau produkmu banyak variasi/warna/ukuran, coba lebih berhati-hati. Produk yang variabelnya kecil biasanya lebih mudah dibundling karena keputusan pembeli tidak kebanyakan pertimbangan.

Uji coba dan baca hasilnya dari data

Setelah bundle live, pantau 2 hal dari data pesanan:

  • AOV naik atau tidak? (nilai rata-rata transaksi)
  • Produk slow-moving ikut terangkat atau tidak?
  • Ada efek samping? (komplain meningkat, retur naik, atau stok best-seller cepat habis)

Kalau hasilnya belum sesuai, biasanya yang perlu diutak-atik adalah kombinasi produk, besaran diskon, atau cara menampilkan paket dengan detail judul, foto paket, dan benefit.

Kesimpulan

Cara paling aman untuk cara menentukan bundling produk berdasarkan data pesanan adalah mulai dari tujuan yang jelas. Apakah kamu mau meningkatkan AOV, efisiensi promosi, atau menghabiskan stok pelan.

Selanjutnya, kamu cari kombinasi yang memang sudah dipilih pembeli lewat riwayat order. Gunakan pola produk yang sering dibeli bareng untuk mixed bundling, kombinasikan produk utama plus pelengkap untuk cross-sell, dan selipkan slow-moving yang masih relevan agar stok tidak jadi beban. 

Terakhir, pastikan harga bundle lebih hemat dibanding beli satuan dan lakukan uji coba berbasis data. Bundling yang menang biasanya bukan yang paling kreatif, tapi yang paling nyambung dengan kebiasaan belanja pelanggan!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Special offer

Dapatkan Tool Riset Produk Laris untuk Lejitkan Bisnis

Lihat cara kami riset produk untuk tingkatkan penjualan toko online. 👇
DOWNLOAD NOW
close-link