Omset perbulan adalah total pendapatan kotor dari seluruh transaksi penjualan di marketplace selama satu bulan sebelum dikurangi biaya apa pun. Penting untuk membedakan omset dari profit karena omset hanya menunjukkan volume transaksi, sedangkan profit adalah sisa uang bersih setelah dikurangi HPP, biaya admin, dan iklan. Tanpa membedakan keduanya, seller berisiko mengalami kebocoran modal meskipun angka penjualan terlihat tinggi.
Artikel ini akan bahas apa itu omset perbulan, rumus menghitungnya, cara melihat omset toko di Shopee dan Tokopedia, sampai cara analisis omset toko kompetitor dengan pendekatan yang lebih praktis. Langsung aja kita bahas sekarang!
Apa Itu Omset Perbulan dalam Konteks Jualan Online?

Secara sederhana, apa itu omset perbulan? Omset bulanan adalah total pendapatan kotor dari seluruh penjualan dalam satu bulan, sebelum dikurangi HPP, biaya admin marketplace, ongkir, packing, iklan, dan biaya operasional lain.
Kalau tokomu mencatat total penjualan Rp10 juta dalam 30 hari, maka itulah omset bulananmu. Angka ini belum bicara untung atau rugi, tapi menunjukkan seberapa besar transaksi yang berhasil masuk.
Masalahnya, banyak seller masih menganggap omset sama dengan keuntungan. Padahal beda jauh.
Misalnya, Toko A punya omset Rp10 juta per bulan. Tapi setelah dikurangi biaya layanan marketplace, biaya admin, ongkir subsidi, HPP, dan packaging, profit bersihnya bisa jauh lebih kecil.
Shopee mengenakan biaya administrasi yang berbeda per kategori dan status seller, ditambah biaya proses pesanan Rp1.250 per transaksi sukses.
Tokopedia juga mengenakan biaya layanan per produk terjual yang berbeda menurut kategori, misalnya banyak kategori Official Store tercantum 4% pada dokumen biaya layanannya.
Saat kamu belajar cara menghitung omset penjualan online, hal pertama yang harus dipahami adalah ini: omset itu angka pendapatan kotor. Penting untuk memantau pertumbuhan toko, tapi tidak bisa dipakai sendirian untuk menilai apakah bisnismu sehat atau tidak.
Rumus Cara Menghitung Omset Bulanan
Kalau kamu ingin tahu cara menghitung omset perbulan, rumusnya sangat sederhana:
Omset Bulanan = Total seluruh penjualan dalam 1 bulan
Kalau mau lebih rinci, kamu bisa menjumlahkan omset harian, lalu menggabungkannya jadi mingguan, lalu bulanan. Cara ini lebih enak dipakai karena kamu bisa melihat pola naik-turun penjualan, bukan cuma angka total di akhir bulan.
Misalnya nih, penjualan tokomu selama 4 minggu seperti:
| Minggu | Penjualan |
| Minggu 1 | Rp2.150.000 |
| Minggu 2 | Rp2.600.000 |
| Minggu 3 | Rp2.350.000 |
| Minggu 4 | Rp2.900.000 |
Maka: Omset Bulanan = Rp2.150.000 + Rp2.600.000 + Rp2.350.000 + Rp2.900.000 = Rp10.000.000
Dari contoh ini, kamu bisa melihat bahwa cara hitung omset sebenarnya mudah. Yang sulit justru konsistensi pencatatannya.
Banyak seller baru cuma melihat saldo masuk, padahal belum tentu semua transaksi dari bulan itu sudah lengkap, apalagi kalau ada pesanan batal, retur, atau pengiriman tertunda.
Karena itu, supaya cara menghitung omset toko Shopee atau Tokopedia lebih rapi, biasakan ambil data dari dashboard penjualan dalam periode bulanan yang konsisten. Jangan campur data harian yang belum final dengan asumsi kasar dari saldo rekening.
Cara Melihat Omset Toko Shopee Secara Otomatis

Kalau kamu jualan di Shopee, cara paling praktis untuk melihat omset adalah lewat Seller Centre atau Business Insights. Shopee menyediakan overview performa toko dan tren metrik dari waktu ke waktu sehingga seller bisa melihat gambaran cepat soal performa penjualan dan metrik utama lain di tab overview.
Artinya, kamu tidak harus menghitung semua dari nol kalau hanya ingin melihat total penjualan dan tren dasar toko.
Secara umum, langkahnya seperti ini:
- Masuk ke Seller Centre
- Buka bagian performa atau insight toko
- Pilih rentang tanggal bulanan.Â
Dari situ, kamu biasanya bisa melihat total penjualan, jumlah pesanan, dan tren dibanding periode sebelumnya. Ini cukup membantu untuk seller yang ingin mulai cara analisis omset toko Shopee tanpa harus ekspor data manual setiap hari.
Di Tokopedia, pendekatannya mirip. Aplikasi Tokopedia Seller menjelaskan bahwa seller bisa mendapatkan data statistik tentang performa penjualan toko, selain notifikasi pesanan dan pengelolaan inventaris.
Jadi secara fungsi, Tokopedia juga sudah memberi seller akses ke data performa penjualan dasar lewat aplikasi dan dashboard seller.
Masalahnya, dashboard bawaan marketplace biasanya bagus untuk membaca toko sendiri, tapi masih terbatas untuk analisis yang lebih dalam. Kamu bisa lihat omset tokomu, tapi belum tentu bisa mudah membandingkan tren kompetitor, membaca kategori, atau melihat struktur omset toko lain.
Untuk analisis yang lebih dalam, termasuk cek omset kompetitor, kamu butuh tools tambahan seperti Tokpee.

Cara Menganalisis Omset Toko Kompetitor di Shopee Menggunakan Tokpee
Dashboard bawaan marketplace hanya membantu kamu membaca toko sendiri. Tapi kalau dengan Tokpee, kamu bisa melakukan beberapa hal berikut:
- Mencari nama toko atau kategori kompetitor yang ingin kamu analisis
- Melihat estimasi omset bulanan dan distribusi produk yang paling berkontribusi
- Mengidentifikasi produk terlaris yang menyumbang porsi penjualan terbesar
- Menggunakan insight untuk membandingkan apakah tokomu masuk kategori yang sama, apakah hargamu terlalu tinggi, atau apakah ada produk yang sebenarnya layak kamu tambah.
Cara Menghitung Omset vs Profit: Jangan Sampai Tertukar
Setelah paham omset, hal berikutnya yang wajib kamu bedakan adalah profit. Ini penting karena banyak seller senang melihat omset besar, padahal profitnya tipis. Rumus sederhananya seperti ini:
Profit = Omset – HPP – Biaya Operasional – Komisi Marketplace – Ongkos Kirim – Biaya Lainnya
Kalau omset adalah total pendapatan kotor, maka profit adalah uang yang benar-benar tersisa setelah semua biaya keluar. Untuk seller Shopee dan Tokopedia, biaya-biaya ini bisa cukup banyak.
Shopee punya biaya admin berbeda per kategori, biaya proses pesanan Rp1.250 per transaksi sukses, dan biaya tambahan untuk program tertentu. Tokopedia juga punya biaya layanan per produk terjual yang berbeda menurut kategori.
Misalnya begini: tokomu omset Rp10 juta per bulan. HPP produk Rp6 juta. Biaya admin dan layanan marketplace Rp400 ribu. Ongkir subsidi dan packing Rp500 ribu. Iklan Rp700 ribu.
Maka profit kasarnya adalah: Rp10.000.000 – Rp6.000.000 – Rp400.000 – Rp500.000 – Rp700.000 = Rp2.400.000
Nah, di sini baru kelihatan kenapa omset tidak boleh dibaca sebagai uang bersih. Ada saatnya kamu perlu fokus menaikkan omset, misalnya saat toko masih kecil dan butuh volume penjualan.
Tapi ada juga saatnya kamu harus fokus efisiensi biaya, misalnya saat omset sudah naik tapi profit tidak ikut membesar.
Tips Menaikkan Omset Toko Shopee Per Bulan

Fokus ke Produk Berpotensi
Kalau tujuanmu adalah menaikkan omset, jangan cuma kejar jumlah order. Fokus dulu ke produk yang memberi kontribusi paling besar dan paling sehat untuk toko.
Terkadang, produk yang paling ramai bukan produk yang paling baik untuk dibesarkan. Produk dengan margin sehat, repeat order tinggi, dan demand stabil biasanya lebih aman untuk didorong.
Pakai Data!
Tips kedua, gunakan data riset untuk mencari produk baru yang sedang tumbuh. Jangan hanya mengandalkan feeling atau ikut-ikutan tren media sosial.
Cek kategori yang sedang naik, lihat toko kompetitor, dan pahami varian apa yang paling cepat bergerak. Ini akan membantu menambah SKU yang memang punya potensi menyumbang omset, bukan sekadar menambah katalog.
Memanfaatkan Momen Penting
Manfaatkan momen campaign seperti flash sale, promo tanggal kembar, atau campaign besar marketplace untuk mendorong lonjakan omset bulanan. Di marketplace, ritme campaign punya pengaruh besar pada volume penjualan.
Tapi ingat, campaign harus dibaca bersama margin. Jangan sampai omset naik, tapi profit justru makin tipis karena terlalu agresif diskon.
Track Omset
Pantau omset harian lalu cari pola. Hari apa paling ramai? Produk apa paling sering dibeli saat jam tertentu? Kapan stok sering habis?
Seller yang rutin membaca pola seperti ini akan lebih cepat mengambil keputusan soal restock, pricing, dan promo.
Kapan Seller Harus Fokus Naikkan Omset, dan Kapan Harus Fokus Efisiensi?

Banyak seller salah arah karena selalu berpikir target utama adalah menaikkan omset. Padahal tidak selalu begitu.
Kalau tokomu masih kecil dan traffic masih rendah, menaikkan omset memang penting karena itu tanda pasar mulai terbentuk. Tapi kalau omset sudah naik sementara profit tetap tipis, yang kamu butuhkan justru efisiensi.
Biasanya kamu perlu fokus menaikkan omset kalau produkmu masih punya ruang demand besar, conversion rate masih bisa ditingkatkan, dan kapasitas operasional masih aman. Tapi kalau biaya admin, iklan, retur, dan packaging mulai memakan terlalu banyak margin, maka menaikkan omset saja tidak cukup.
Dalam fase ini, kamu harus mulai memotong biaya yang bocor, memilih produk yang lebih sehat, dan menata ulang strategi promo.
Jadi, cara menghitung omset perbulan bukan sekadar soal menjumlahkan penjualan. Tujuan akhirnya adalah membaca kondisi bisnis: apakah toko sedang tumbuh dengan sehat, atau sebenarnya hanya sibuk muter angka besar tapi profit tipis.
Kesimpulan
Memahami cara menghitung omset perbulan adalah langkah dasar yang wajib dikuasai seller marketplace. Omset membantu kamu melihat seberapa besar toko berkembang, tapi omset tidak boleh disamakan dengan profit.
Justru setelah tahu omset, kamu harus lanjut membaca biaya, margin, dan kontribusi tiap produk supaya keputusan bisnis lebih akurat.
Kalau kamu jualan di Shopee atau Tokopedia, dashboard bawaan sudah cukup membantu untuk membaca performa toko sendiri. Tapi kalau kamu ingin analisis yang lebih dalam, termasuk melihat omset kompetitor, pola kategori, dan peluang produk baru, kamu perlu pakai Tokpee!
