Banyak bisnis online ingin mulai digital marketing, tapi bingung harus fokus ke mana dulu: SEO, Instagram, TikTok, marketplace, paid ads, live shopping, atau WhatsApp?
Masalahnya, tidak semua channel cocok untuk semua bisnis. Ada channel yang kuat untuk membangun awareness, ada yang lebih cocok untuk mendatangkan traffic, ada yang efektif untuk closing, dan ada yang berguna untuk repeat order.
Kesalahan yang sering terjadi adalah bisnis mencoba memakai semua channel sekaligus, padahal resource masih terbatas. Akhirnya konten tidak konsisten, iklan tidak terukur, toko belum siap convert, dan hasilnya tidak jelas.
Di artikel ini, kamu akan mengenal jenis-jenis digital marketing yang relevan untuk toko online, cara memilih channel berdasarkan tujuan bisnis, serta contoh channel yang cocok untuk UMKM, seller marketplace, dan brand yang ingin meningkatkan penjualan.
Apa Itu Digital Marketing?
Digital marketing adalah aktivitas pemasaran menggunakan channel digital untuk menjangkau, menarik, mengubah, dan mempertahankan customer.
Channel digital bisa berupa search engine seperti Google, social media seperti Instagram dan TikTok, marketplace, email, WhatsApp, paid ads, live shopping, affiliate, sampai konten review dari pembeli.
Untuk toko online, digital marketing bukan hanya soal promosi. Tujuannya bisa berbeda-beda, misalnya:
- membuat orang mengenal brand,
- mendatangkan traffic ke toko,
- meningkatkan conversion,
- membangun kepercayaan,
- mendorong repeat order,
- mengumpulkan database customer.
Jadi, digital marketing tidak bisa dilihat hanya sebagai “cara jualan online”. Digital marketing adalah sistem untuk membawa calon customer dari belum tahu produk kamu, mulai tertarik, membandingkan, membeli, lalu akhirnya kembali membeli lagi.
Kenapa Toko Online Perlu Memilih Channel Digital Marketing yang Tepat?
Toko online perlu memilih channel digital marketing dengan tepat karena budget, waktu, dan tenaga biasanya terbatas.
Kamu tidak harus langsung aktif di semua channel. Justru, memakai terlalu banyak channel tanpa strategi sering membuat hasilnya tidak maksimal.
Setiap channel punya fungsi berbeda. Social media bisa bagus untuk awareness, tapi belum tentu langsung menghasilkan penjualan.
SEO bisa menghasilkan traffic jangka panjang, tapi butuh waktu. Paid ads bisa lebih cepat, tapi butuh budget dan optimasi. WhatsApp bisa kuat untuk closing, tapi tidak cocok kalau dipakai spam broadcast terus-menerus.
Memilih channel digital marketing itu seperti memilih jalur distribusi. Kalau audience kamu tidak ada di channel tersebut, promosi bisa ramai tetapi tidak menghasilkan penjualan.
Misalnya, produk fashion mungkin cocok dipromosikan lewat short video, live shopping, influencer, dan marketplace. Tapi produk B2B yang butuh edukasi panjang mungkin lebih cocok lewat SEO, LinkedIn, email, dan content marketing.
Artinya, channel yang bagus untuk satu bisnis belum tentu bagus untuk bisnis lain. Yang penting bukan ikut tren, tapi memilih channel berdasarkan tujuan, audience, budget, dan kapasitas tim.
Jenis-Jenis Digital Marketing untuk Toko Online

SEO
SEO atau Search Engine Optimization adalah strategi untuk membuat website, toko online, atau konten kamu lebih mudah ditemukan di mesin pencari seperti Google.
Untuk toko online, SEO bisa digunakan pada artikel blog, halaman kategori, halaman produk, dan konten panduan yang menjawab kebutuhan calon pembeli.
Contohnya:
- artikel “cara memilih skincare untuk kulit berminyak”,
- halaman kategori “sepatu wanita casual”,
- halaman produk dengan judul dan deskripsi yang jelas,
- konten perbandingan produk.
SEO cocok untuk mendatangkan traffic jangka panjang. Kelemahannya, hasil SEO biasanya tidak instan. Kamu perlu riset keyword, membuat konten berkualitas, mengoptimasi struktur website, dan membangun trust secara konsisten.
Namun, kalau dikerjakan dengan benar, SEO bisa menjadi aset jangka panjang karena konten yang sudah ranking bisa terus mendatangkan calon customer tanpa harus selalu membayar iklan.
Content Marketing
Content marketing adalah strategi pemasaran lewat konten yang edukatif, informatif, atau menghibur untuk menarik dan membangun kepercayaan audience.
Bentuknya bisa berupa artikel, video tutorial, panduan, checklist, comparison content, case study, atau konten edukasi produk.
Content marketing cocok untuk produk yang butuh penjelasan sebelum dibeli. Misalnya skincare, produk digital, perlengkapan bayi, produk kesehatan, produk edukasi, atau produk B2B.
Contohnya:
- tutorial menggunakan produk,
- panduan memilih ukuran,
- tips merawat produk,
- konten perbandingan,
- edukasi masalah yang diselesaikan produk.
Konten yang bagus tidak selalu langsung menjual. Kadang fungsinya adalah membuat calon customer lebih percaya, lebih paham, dan lebih siap membeli.
Social Media Marketing
Social media marketing adalah aktivitas promosi dan komunikasi brand melalui platform seperti Instagram, TikTok, Facebook, X, atau LinkedIn.
Channel ini cocok untuk membangun awareness, engagement, dan hubungan dengan audience.
Untuk toko online, social media bisa digunakan untuk:
- memperkenalkan produk,
- membangun brand personality,
- menampilkan testimoni,
- membagikan promo,
- menjawab pertanyaan customer,
- mengarahkan traffic ke marketplace atau website.
Tantangannya, social media butuh konsistensi. Kamu tidak bisa hanya posting sesekali lalu berharap penjualan langsung naik. Perlu kalender konten, angle yang jelas, visual yang menarik, dan pemahaman terhadap audience.
Short Video Marketing
Short video marketing adalah strategi menggunakan video pendek di platform seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts.
Untuk toko online, short video sangat relevan karena banyak customer menemukan produk baru dari konten video pendek. Produk yang awalnya tidak dicari bisa tiba-tiba menarik perhatian karena ditampilkan dengan cara yang tepat.
Contoh konten short video:
- demo produk,
- before-after,
- review singkat,
- tutorial penggunaan,
- unboxing,
- problem-solution,
- perbandingan produk.
Short video cocok untuk product discovery, terutama produk visual seperti fashion, beauty, makanan, aksesoris, perlengkapan rumah, dan gadget kecil.
Namun, jangan hanya mengejar viral. Video yang viral belum tentu menghasilkan penjualan kalau tidak ada offer jelas, toko belum siap, atau audience yang datang tidak sesuai target.
Paid Ads
Paid ads adalah strategi promosi berbayar untuk mendatangkan traffic, leads, atau sales lebih cepat. Contohnya:
- Meta Ads,
- Google Ads,
- TikTok Ads,
- marketplace ads,
- display ads,
- retargeting ads.
Paid ads cocok kalau kamu ingin menguji produk, mempercepat traffic, atau mendorong penjualan dalam waktu lebih singkat.
Namun, paid ads bukan tombol ajaib. Iklan yang bagus tetap butuh produk yang jelas, foto menarik, harga masuk akal, offer kuat, landing page atau toko yang siap convert, dan tracking yang rapi.
Banyak bisnis gagal di ads bukan karena platform iklannya buruk, tapi karena mereka mengirim traffic ke toko yang belum meyakinkan.
Marketplace Marketing
Marketplace marketing adalah strategi pemasaran di dalam marketplace seperti optimasi listing produk, judul produk, foto, deskripsi, review, voucher, promo, dan iklan marketplace.
Untuk seller toko online, ini channel yang sangat penting karena banyak customer langsung mencari produk di marketplace, bukan di Google atau Instagram.
Marketplace marketing bisa mencakup:
- optimasi judul produk,
- penggunaan keyword di deskripsi,
- foto produk yang jelas,
- harga kompetitif,
- voucher dan promo,
- review dan rating,
- marketplace ads,
- ikut campaign marketplace,
- bundling produk.
Untuk toko online, digital marketing tidak hanya terjadi di Google atau Instagram. Banyak customer menemukan produk melalui marketplace search, video pendek, live shopping, rekomendasi creator, review pembeli, dan chat WhatsApp.
Jadi, kalau kamu jualan di marketplace, jangan hanya upload produk lalu menunggu order. Listing produk juga perlu dioptimasi agar lebih mudah ditemukan dan lebih meyakinkan untuk dibeli.
Influencer atau Creator Marketing
Influencer marketing adalah strategi bekerja sama dengan creator untuk memperkenalkan produk ke audience mereka.
Channel ini cocok untuk membangun trust, terutama jika produk kamu butuh bukti penggunaan, pengalaman personal, atau rekomendasi dari orang yang dipercaya. Contohnya:
- review produk oleh creator,
- konten tutorial,
- video unboxing,
- live bersama creator,
- affiliate content,
- testimoni penggunaan.
Kunci influencer marketing bukan hanya jumlah followers. Yang lebih penting adalah kesesuaian audience, kredibilitas creator, engagement, dan kualitas konten.
Creator kecil dengan audience yang sangat relevan kadang bisa lebih efektif daripada influencer besar dengan audience terlalu umum.
Affiliate Marketing
Affiliate marketing adalah strategi pemasaran berbasis komisi. Kamu membayar affiliate, creator, atau partner ketika mereka berhasil menghasilkan penjualan atau aksi tertentu.
Affiliate cocok untuk memperluas distribusi produk tanpa harus membayar biaya promosi besar di awal.
Di toko online dan marketplace, affiliate sering digunakan untuk:
- mendorong creator membuat konten produk,
- memperluas jangkauan promosi,
- meningkatkan penjualan berbasis performa,
- menguji banyak angle konten dari banyak creator.
Kelebihannya, biaya lebih terhubung dengan hasil. Tantangannya, kamu tetap perlu memastikan margin cukup, materi promosi jelas, stok aman, dan produk memang menarik untuk dipromosikan.
Email Marketing
Email marketing adalah strategi menggunakan email untuk membangun hubungan, memberikan informasi, dan mendorong pembelian ulang.
Channel ini cocok untuk nurturing dan repeat order, terutama jika kamu sudah punya database customer.
Contoh email marketing:
- newsletter,
- promo member,
- rekomendasi produk,
- reminder keranjang,
- edukasi produk,
- informasi produk baru,
- campaign seasonal.
Email marketing sering diabaikan oleh toko online kecil, padahal database customer adalah aset. Kalau kamu terus bergantung pada iklan untuk mendapatkan pembeli baru, biaya akuisisi bisa semakin mahal.
Dengan email, kamu bisa membangun hubungan jangka panjang dengan customer yang sudah pernah tertarik atau membeli.
WhatsApp Marketing
WhatsApp marketing adalah strategi menggunakan WhatsApp untuk follow-up, closing, customer service, dan repeat order.
Channel ini sangat relevan untuk UMKM dan toko online di Indonesia karena banyak customer nyaman bertanya lewat chat sebelum membeli. WhatsApp bisa digunakan untuk:
- follow-up calon pembeli,
- mengirim katalog,
- menjawab pertanyaan,
- menginformasikan promo,
- mengingatkan repeat order,
- membangun komunikasi personal.
Namun, WhatsApp harus digunakan dengan hati-hati. Jangan spam broadcast terlalu sering, apalagi ke orang yang tidak pernah memberi izin. Gunakan segmentasi, pesan yang relevan, dan timing yang masuk akal.
WhatsApp marketing yang baik terasa membantu. WhatsApp marketing yang buruk terasa mengganggu.
Live Shopping
Live shopping adalah strategi menjual produk melalui siaran langsung di marketplace atau social commerce.
Channel ini cocok untuk produk visual dan impulse buying, seperti fashion, beauty, makanan, aksesoris, produk rumah tangga, dan produk dengan promo terbatas.
Live shopping bisa membantu untuk:
- mendemonstrasikan produk,
- menjawab pertanyaan real-time,
- membangun kepercayaan,
- mendorong pembelian cepat,
- menawarkan voucher atau flash sale.
Namun, live shopping juga butuh persiapan. Kamu perlu host, script, stok siap, promo menarik, alur penawaran, dan cara mengarahkan penonton untuk checkout.
Kalau hanya live tanpa strategi, hasilnya sering tidak konsisten.
Retargeting atau Remarketing
Retargeting adalah strategi menjangkau kembali orang yang sudah pernah berinteraksi dengan bisnis kamu.
Misalnya orang yang pernah:
- melihat produk,
- mengunjungi website,
- masuk ke halaman checkout,
- add to cart,
- chat WhatsApp,
- menonton video,
- berinteraksi dengan akun social media.
Retargeting cocok untuk meningkatkan conversion karena targetnya bukan audience dingin. Mereka sudah pernah menunjukkan minat, hanya belum membeli.
Contoh retargeting:
- iklan untuk orang yang pernah add to cart,
- promo khusus untuk pengunjung website,
- reminder produk yang dilihat,
- WhatsApp follow-up untuk calon pembeli,
- email rekomendasi produk serupa.
Retargeting penting untuk toko yang sudah punya traffic. Kalau kamu sudah mendatangkan banyak orang tapi tidak melakukan follow-up, banyak peluang penjualan bisa hilang.
Channel Digital Marketing Berdasarkan Funnel
Kesalahan banyak bisnis adalah memakai semua channel untuk langsung jualan. Padahal ada channel yang lebih cocok untuk membangun awareness, dan ada channel yang lebih cocok untuk closing.
Agar lebih mudah, kamu bisa melihat digital marketing berdasarkan funnel.
| Funnel Stage | Goal | Channel yang Cocok | Contoh Aktivitas |
| Awareness | Orang tahu brand | TikTok, Instagram, influencer, ads awareness | Video pendek, konten edukasi, kolaborasi creator |
| Interest | Orang mulai tertarik | Content marketing, blog, short video, social media | Tips, tutorial, behind the scene, edukasi produk |
| Consideration | Orang membandingkan | Review, UGC, testimonial, comparison page | Konten perbandingan, review pembeli |
| Conversion | Orang membeli | Marketplace, website, paid ads, promo, live shopping | Diskon, bundle, voucher, flash sale |
| Retention | Orang beli lagi | Email, WhatsApp, loyalty, remarketing | Reminder, promo member, broadcast produk baru |
Untuk brand baru, jangan langsung berharap semua traffic dari TikTok atau Instagram langsung membeli. Gunakan channel awareness untuk mengenalkan produk, lalu gunakan review, retargeting, promo, marketplace, dan WhatsApp untuk membantu conversion.
Kalau kamu menjual produk skincare, misalnya, short video bisa dipakai untuk awareness, review pembeli untuk consideration, marketplace promo untuk conversion, dan WhatsApp atau email untuk repeat order.
Cara Memilih Channel Digital Marketing yang Cocok

Channel digital marketing tidak bisa dipilih asal. Setiap channel punya fungsi berbeda. Ada channel yang kuat untuk awareness, ada yang cocok untuk traffic, ada yang efektif untuk conversion, dan ada yang lebih berguna untuk repeat order.
Gunakan framework berikut.
| Tujuan Bisnis | Channel yang Cocok | Kenapa |
| Brand baru ingin dikenal | Social media, short video, influencer, ads awareness | Cepat menjangkau audience baru |
| Toko ingin traffic organik | SEO, content marketing, marketplace SEO | Bisa menghasilkan traffic jangka panjang |
| Butuh penjualan cepat | Paid ads, marketplace ads, live shopping, promo marketplace | Bisa langsung mendorong conversion |
| Ingin repeat order | Email, WhatsApp, loyalty program, retargeting | Cocok untuk customer existing |
| Produk perlu edukasi | Content marketing, video, community, webinar | Membantu membangun trust |
| Banyak kompetitor | Review, UGC, comparison content, niche SEO | Membantu brand terlihat lebih dipercaya |
Agar lebih praktis, berikut langkah-langkah memilih channel digital marketing.
Tentukan Tujuan Bisnis
Sebelum memilih channel, jawab dulu: kamu ingin mencapai apa? Apakah kamu ingin brand lebih dikenal? Ingin mendatangkan traffic? Ingin penjualan cepat? Ingin repeat order? Atau ingin membangun trust untuk produk yang butuh edukasi?
Tujuan yang berbeda membutuhkan channel yang berbeda.
Kalau tujuanmu awareness, short video dan influencer bisa relevan. Kalau tujuanmu traffic jangka panjang, SEO dan content marketing lebih cocok. Kalau tujuanmu closing, marketplace, paid ads, promo, WhatsApp, dan retargeting lebih dekat dengan conversion.
Kenali Audience
Channel yang kamu pilih harus sesuai dengan perilaku audience. Tanyakan beberapa hal ini:
- Apakah audience sering mencari produk di Google?
- Apakah mereka lebih sering mencari langsung di marketplace?
- Apakah mereka aktif di TikTok atau Instagram?
- Apakah mereka butuh konsultasi lewat WhatsApp?
- Apakah mereka percaya review, UGC, atau rekomendasi creator?
- Apakah pembelian produk butuh pertimbangan panjang?
Cek Budget
Budget sangat menentukan pilihan channel. Kalau budget kecil, kamu bisa mulai dari social media organic, marketplace, WhatsApp, short video, dan optimasi listing produk.
Kalau ada budget, kamu bisa mencoba paid ads, influencer, marketplace ads, dan retargeting. Jika ingin membangun aset jangka panjang, SEO dan content marketing bisa diprioritaskan meskipun hasilnya tidak instan.
Jangan memaksakan paid ads kalau toko belum siap convert. Iklan bisa mendatangkan traffic, tapi tidak bisa menyelamatkan produk, foto, harga, dan offer yang lemah.
Cek Kapasitas Tim
Channel digital marketing juga harus sesuai dengan kapasitas tim. Tanyakan:
- Apakah kamu bisa produksi video secara konsisten?
- Apakah kamu bisa menulis konten blog?
- Apakah kamu bisa live shopping?
- Apakah kamu bisa follow-up WhatsApp dengan rapi?
- Apakah kamu bisa mengelola iklan?
- Apakah kamu bisa membuat desain dan foto produk?
- Apakah kamu punya waktu untuk analisis data?
Jangan memilih channel hanya karena sedang tren. Kalau kamu tidak punya kapasitas untuk menjalankannya dengan konsisten, hasilnya kemungkinan tidak maksimal.
Pilih 2–3 Channel Prioritas
Bisnis kecil tidak perlu langsung aktif di semua channel. Mulai dari 2–3 channel yang paling dekat dengan customer dan resource bisnis.
Contohnya:
- Seller baru: marketplace, WhatsApp, TikTok atau Instagram.
- Produk visual: short video, live shopping, marketplace.
- Produk edukatif: content marketing, social media, WhatsApp.
- Brand dengan traffic: retargeting, email, WhatsApp.
- Bisnis dengan budget ads: paid ads, landing page atau toko, retargeting.
Lebih baik fokus di sedikit channel tapi konsisten dan terukur, daripada hadir di semua channel tapi tidak ada yang optimal.
Ukur Hasil per Channel
Setiap channel harus diukur berdasarkan tujuan. Jangan mengukur semua channel hanya dari sales langsung.
| Tujuan | Metric |
| Awareness | Reach, impression, followers |
| Traffic | Click, session, product views |
| Conversion | Order, conversion rate, CPA |
| Retention | Repeat order, customer database |
| Revenue | Sales, AOV, ROAS |
Rekomendasi Channel Berdasarkan Budget dan Effort
Channel cepat biasanya butuh budget atau effort tinggi. Channel murah biasanya butuh konsistensi lebih lama. Pilih berdasarkan resource bisnis, bukan hanya ikut tren.
| Channel | Budget | Effort | Speed | Cocok untuk |
| SEO | Rendah–Sedang | Tinggi | Lambat | Traffic jangka panjang |
| Social media organic | Rendah | Tinggi | Sedang | Brand building dan engagement |
| Short video | Rendah–Sedang | Tinggi | Cepat jika konten cocok | Awareness dan product discovery |
| Paid ads | Sedang–Tinggi | Sedang | Cepat | Testing dan sales cepat |
| Marketplace ads | Sedang | Sedang | Cepat | Seller marketplace |
| Influencer/creator | Sedang–Tinggi | Sedang | Cepat | Awareness dan trust |
| Email marketing | Rendah | Sedang | Cepat | Repeat order |
| WhatsApp marketing | Rendah | Sedang | Cepat | Closing dan customer retention |
| Affiliate marketing | Komisi | Sedang | Sedang | Distribusi berbasis performa |
| Live shopping | Rendah–Sedang | Tinggi | Cepat | Produk visual dan impulse buying |
Rekomendasi Channel Berdasarkan Fase Bisnis
Channel yang cocok untuk bisnis baru belum tentu sama dengan bisnis yang sudah punya traffic. Semakin matang bisnis, semakin penting retention, database customer, dan repeat order.
| Fase Bisnis | Fokus | Channel Prioritas |
| Baru mulai | Validasi produk dan awareness | Marketplace, social media, short video, WhatsApp |
| Mulai dapat order | Optimasi conversion | Marketplace ads, promo, review, retargeting |
| Ingin scale | Perluas traffic dan repeat order | Paid ads, affiliate, influencer, email/WhatsApp |
| Sudah punya brand | Bangun loyalitas | SEO, content, community, loyalty, CRM |
| Produk edukatif | Bangun trust | Blog, video edukasi, webinar, review, case study |
Contoh Strategi Digital Marketing Berdasarkan Jenis Bisnis
Setiap jenis bisnis punya karakter produk dan audience yang berbeda. Karena itu, channel prioritasnya juga bisa berbeda.
| Jenis Bisnis | Channel Prioritas | Kenapa |
| Fashion | TikTok/Instagram, influencer, live shopping, marketplace ads | Produk visual dan mudah didemokan |
| Skincare/beauty | UGC, review, influencer, content edukasi, retargeting | Butuh trust dan bukti pemakaian |
| Makanan/minuman | Social media, local SEO, WhatsApp, delivery platform | Dipengaruhi lokasi dan visual |
| Produk digital | SEO, webinar, email, paid ads | Butuh edukasi dan trust |
| Produk rumah tangga | Marketplace SEO, review, short video, bundling | Banyak dicari di marketplace |
| B2B | SEO, LinkedIn, email, content marketing | Butuh edukasi dan sales cycle lebih panjang |
| UMKM baru | Marketplace, WhatsApp, short video, social media organic | Low budget dan mudah mulai |
Contoh untuk skincare:
- Awareness: short video edukasi tentang masalah kulit.
- Consideration: review, UGC, before-after, testimoni.
- Conversion: marketplace ads, promo bundle, voucher.
- Retention: WhatsApp atau email untuk repeat order.
Contoh untuk fashion:
- Awareness: TikTok, Instagram Reels, influencer.
- Conversion: live shopping, marketplace promo, katalog produk.
- Retention: broadcast koleksi baru dan promo pelanggan lama.
Contoh untuk produk rumah tangga:
- Awareness: short video demo penggunaan.
- Consideration: review pembeli dan perbandingan produk.
- Conversion: marketplace SEO, bundle, voucher.
- Retention: rekomendasi produk pelengkap.
Kesalahan Umum Saat Memilih Channel Digital Marketing
Menggunakan Semua Channel Sekaligus
Aktif di banyak channel terlihat bagus, tapi kalau tidak dikelola dengan serius, hasilnya justru lemah. Lebih baik fokus pada 2–3 channel utama daripada mencoba semua platform tapi tidak konsisten.
Ikut Tren Tanpa Tahu Audience
Tidak semua bisnis harus masuk TikTok, tidak semua bisnis harus live shopping, dan tidak semua bisnis harus langsung pakai paid ads. Kalau audience kamu tidak aktif di channel tersebut, promosi bisa terlihat ramai tapi tidak menghasilkan pembelian.
Langsung Hard Selling di Channel Awareness
Social media dan short video sering lebih efektif untuk mengenalkan produk, membangun minat, dan menciptakan trust.
Kalau semua konten hanya berisi “beli sekarang”, audience bisa cepat bosan. Gunakan kombinasi edukasi, hiburan, review, demo, dan penawaran.
Tidak Punya Toko atau Landing Page yang Siap Convert
Banyak bisnis baru langsung menjalankan ads tanpa toko, foto produk, offer, dan review yang kuat. Akibatnya, traffic masuk tetapi tidak ada yang membeli.
Sebelum mendorong traffic, pastikan halaman produk jelas, harga masuk akal, foto menarik, review tersedia, dan proses checkout mudah.
Tidak Mengukur Hasil per Channel
Jangan hanya melihat jumlah likes atau followers. Ukur metric sesuai tujuan channel.
Untuk paid ads, lihat CPA, ROAS, conversion rate. Untuk SEO, lihat traffic organik dan ranking. Untuk WhatsApp, lihat response rate dan closing rate. Untuk email, lihat open rate, click rate, dan repeat order.
Terlalu Cepat Menyerah pada SEO dan Content
SEO dan content marketing memang tidak instan. Kalau kamu berhenti setelah beberapa minggu, kamu belum memberi cukup waktu untuk melihat hasilnya.
Channel ini cocok untuk strategi jangka panjang, bukan penjualan cepat dalam hitungan hari.
Terlalu Bergantung pada Paid Ads
Paid ads bisa membantu scale, tapi kalau seluruh penjualan bergantung pada iklan, bisnis menjadi rentan. Saat biaya iklan naik atau performa turun, penjualan bisa langsung terganggu.
Bangun juga channel organik, database customer, repeat order, dan review.
Tidak Membangun Database Customer
Customer yang sudah pernah membeli adalah aset. Kalau kamu tidak mengumpulkan database, kamu harus terus membayar untuk mendapatkan customer baru.
Gunakan email, WhatsApp, loyalty program, atau CRM sederhana untuk membangun hubungan dengan customer lama.
Tidak Memanfaatkan Review dan UGC
Review dan UGC membantu calon pembeli lebih percaya. Untuk toko online, trust sangat penting karena pembeli tidak bisa melihat produk secara langsung.
Gunakan review pembeli, foto customer, video testimoni, dan konten creator sebagai bagian dari strategi marketing.
Tidak Membedakan Strategi New Customer dan Repeat Customer
New customer butuh awareness, trust, dan alasan untuk mencoba. Repeat customer butuh reminder, pengalaman bagus, promo relevan, dan produk lanjutan.
Jangan memperlakukan semua customer dengan pesan yang sama.
Mulai dari Channel Mana?
| Kondisi | Mulai dari |
| Baru buka toko online | Marketplace + WhatsApp + Instagram/TikTok |
| Produk mudah divisualkan | Short video + live shopping + marketplace |
| Produk butuh edukasi | Content marketing + social media + WhatsApp |
| Sudah punya traffic | Retargeting + email/WhatsApp + promo |
| Punya budget ads | Paid ads + landing page/toko + retargeting |
| Ingin jangka panjang | SEO + content + database customer |
Kesimpulan
Jenis digital marketing sangat banyak, mulai dari SEO, content marketing, social media, short video, paid ads, marketplace marketing, influencer, affiliate, email, WhatsApp, live shopping, sampai retargeting. Namun, toko online tidak perlu memakai semuanya sekaligus.
Pilih channel berdasarkan tujuan, audience, budget, dan kapasitas tim. Gunakan funnel untuk memahami fungsi tiap channel: awareness, interest, consideration, conversion, dan retention.
Kalau kamu baru mulai, fokus pada 2–3 channel prioritas dulu. Ukur hasilnya, pelajari channel mana yang benar-benar menghasilkan traffic, order, atau repeat order, lalu scale secara bertahap.
Setelah tahu channel digital marketing yang cocok, langkah berikutnya adalah menyiapkan toko, produk, konten, dan strategi promosi yang konsisten. Gunakan Tokpee agar proses jualan dan promosi bisa lebih terarah.

