
Cara menghitung omset perbulan adalah langkah dasar untuk mengetahui performa penjualan bisnismu. Dengan menghitung omset perbulan, kamu bisa memantau apakah bisnismu berkembang atau justru stagnan. Di artikel Tokpee hari ini, kita akan membahas cara menghitung omset perbulan dan informasi penting lainnya yang perlu kamu pahami sebagai pebisnis!
Apa Itu Omset Perbulan?
Banyak pelaku usaha sering bertanya, “Sebenernya omset itu dihitung dari mana, sih?” atau “Kenapa omsetku besar tapi uangnya nggak kerasa?” Nah, sebelum kamu bingung lebih jauh, penting banget untuk memahami cara menghitung omset perbulan dengan benar.
Omset sering dijadikan indikator awal kesuksesan bisnis. Walaupun omset bukan keuntungan bersih, angka ini tetap penting untuk melihat seberapa besar penjualan yang berhasil kamu capai dalam satu bulan.
Omset perbulan adalah total pendapatan kotor yang diperoleh dari penjualan produk atau jasa selama satu bulan penuh. Omset belum dikurangi biaya apa pun, seperti biaya produksi, operasional, gaji, atau pajak.
Karena masih bersifat kotor, omset sering terlihat besar. Tapi jangan salah, omset yang tinggi belum tentu berarti bisnis kamu untung besar. Meski begitu, omset tetap jadi dasar penting untuk analisis keuangan.
Dengan mengetahui omset perbulan, kamu bisa:
- Memantau tren penjualan
- Membandingkan performa antar bulan
- Menentukan target penjualan ke depan
Kenapa Penting Menghitung Omset Perbulan?
Menghitung omset perbulan bukan cuma soal angka, tapi soal kontrol bisnis. Tanpa data omset, kamu akan sulit menilai apakah strategi penjualan yang dijalankan sudah efektif atau belum.
Selain itu, omset perbulan sering digunakan sebagai acuan untuk:
- Menentukan strategi pemasaran
- Mengajukan kerja sama atau pendanaan
- Mengatur stok dan kapasitas produksi
Kalau omset naik secara konsisten, itu sinyal positif. Sebaliknya, omset yang menurun perlu segera dianalisis penyebabnya.
Cara Menghitung Omset Perbulan

Sekarang kita masuk ke inti pembahasan, yaitu cara menghitung omset perbulan. Sebenarnya, caranya sangat sederhana.
Omset Perbulan = Total Penjualan Harian × Jumlah Hari dalam Sebulan
Atau, kalau kamu punya data penjualan lengkap:
Omset Perbulan = Total Seluruh Penjualan dalam 1 Bulan
Kuncinya ada pada pencatatan penjualan yang rapi dan konsisten.
Biar makin kebayang, kita pakai contoh sederhana. Misalnya, kamu punya usaha makanan dan rata-rata penjualan harianmu adalah Rp2.000.000. Dalam satu bulan (30 hari), omset perbulan kamu adalah:
Rp2.000.000 × 30 = Rp60.000.000
Contoh lain, jika kamu mencatat penjualan harian sebagai berikut:
- Minggu pertama: Rp10.000.000
- Minggu kedua: Rp12.000.000
- Minggu ketiga: Rp15.000.000
- Minggu keempat: Rp13.000.000
Maka omset perbulan kamu:
Rp10.000.000 + Rp12.000.000 + Rp15.000.000 + Rp13.000.000 = Rp50.000.000
Cara Menghitung Omset Perbulan untuk Berbagai Jenis Usaha
Setiap jenis usaha bisa punya cara pencatatan omset yang sedikit berbeda. Yuk kita pantengin satu per satu:
- Untuk usaha ritel atau online shop, omset biasanya berasal dari total transaksi penjualan produk. Untuk usaha jasa, omset dihitung dari total nilai jasa yang terjual dalam satu bulan.
- Sementara untuk bisnis manufaktur atau grosir, omset bisa berasal dari penjualan dalam jumlah besar, meskipun frekuensi transaksinya lebih sedikit.
Apa pun jenis usahanya, prinsip cara menghitung omset perbulan tetap sama: jumlahkan seluruh pendapatan kotor dalam periode satu bulan.
Kesalahan Umum Saat Menghitung Omset
- Salah satu kesalahan paling umum adalah mencampur omset dengan laba. Banyak pelaku usaha mengira omset adalah keuntungan bersih, padahal belum dikurangi biaya apa pun.
- Kesalahan lainnya adalah tidak mencatat penjualan secara konsisten. Penjualan kecil yang tidak tercatat bisa membuat omset terlihat lebih kecil dari kondisi sebenarnya.
- Selain itu, ada juga yang memasukkan pendapatan di luar penjualan utama, padahal seharusnya omset fokus pada aktivitas inti bisnis.
Hubungan Omset Perbulan dengan Keuntungan
Omset dan keuntungan punya hubungan erat, tapi tidak sama. Omset adalah pendapatan kotor, sedangkan keuntungan adalah sisa uang setelah semua biaya dikurangi.
Omset yang besar tapi biaya juga besar bisa menghasilkan keuntungan kecil. Sebaliknya, omset yang lebih kecil tapi efisien bisa menghasilkan laba lebih sehat.
Karena itu, setelah paham cara menghitung omset perbulan, langkah berikutnya adalah menganalisis biaya dan margin keuntungan.
Tips Memaksimalkan Omset Perbulan
Setelah omset terhitung dengan jelas, kamu bisa mulai fokus meningkatkannya. Berikut beberapa tips yang bisa kamu coba:
- Tingkatkan volume penjualan dengan promo atau diskon
- Perluas channel penjualan, misalnya dari offline ke online
- Tingkatkan kualitas produk atau layanan
- Optimalkan strategi pemasaran digital
- Jaga hubungan baik dengan pelanggan lama
Ingat, menaikkan omset tidak selalu berarti harus menurunkan harga. Nilai tambah produk juga bisa meningkatkan penjualan.
Kesimpulan
Cara menghitung omset perbulan adalah langkah penting untuk memantau performa bisnis secara keseluruhan.
Dengan rumus sederhana dan pencatatan yang rapi, kamu bisa mengetahui arah perkembangan usaha dari waktu ke waktu.
Setelah omset terukur, kamu bisa menyusun strategi yang lebih tepat untuk meningkatkan penjualan dan menjaga bisnis tetap bertumbuh.

Tau nggak, kalau mau naikin omzet per bulan, cara paling aman adalah jualan produk yang udah terbukti laris. Nah, buat nemuin produk-produk kayak gitu, kamu bisa pakai Tokpee.
Dengan Tokpee, kamu bisa riset produk berdasarkan kata kunci dan kategori, kepoin toko kompetitor buat lihat produk andalan mereka, sampai cek detail produk dan varian mana yang paling banyak dibeli.
Nggak cuma itu, kamu juga bisa riset keyword iklan, atur strategi bidding, dan mantau strategi live shopping serta affiliate kompetitor secara real-time.
Kamu nggak lagi jualan pakai feeling, semua keputusan berbasis data. Hasilnya? Produk lebih cepat laku, strategi lebih tepat, dan omzet bulanan pun naik lebih konsisten!
