Kalau kamu mencari arti retur Shopee, ada dua konteks yang sering tercampur. Pertama, retur penjualan, yaitu saat customer mengembalikan barang ke toko kamu di Shopee karena rusak, salah kirim, atau tidak sesuai deskripsi.
Kedua, retur pembelian, yaitu saat kamu sebagai seller mengembalikan barang ke supplier karena stok yang datang cacat, kurang, atau tidak sesuai pesanan.
Retur Pembelian di Shopee dan Tokopedia

Dalam praktik seller marketplace, retur pembelian biasanya terjadi saat kamu belanja stok dari supplier lewat Shopee, Tokopedia, atau channel grosir lain, lalu barang yang datang ternyata tidak sesuai.
Misalnya, kamu pesan 50 pcs casing HP, tetapi 10 pcs retak. Atau kamu beli serum untuk dijual lagi, tetapi batch yang datang bocor.
Di sisi ini, kamu berperan sebagai pembeli yang mengembalikan barang ke pemasok. Menurut referensi akuntansi, retur pembelian adalah pengembalian barang yang dibeli perusahaan kepada pemasok, dan efek utamanya adalah utang dagang berkurang serta persediaan berkurang.
Secara operasional di marketplace, retur seperti ini biasanya dimulai dari komplain atau pengajuan pengembalian sesuai kebijakan platform dan toko pemasok. Pada alur pengembalian Shopee untuk pembeli, pengguna perlu memilih pesanan, klik Ajukan Pengembalian, memilih alasan, lalu mengunggah bukti.
Pentingnya bukti foto atau video, kondisi barang masih asli, serta pengajuan dalam batas waktu yang ditentukan penjual atau platform. Prinsip yang sama relevan saat kamu sebagai seller berbelanja ke supplier di marketplace: jangan buang bukti unboxing, simpan chat, dan cocokkan barang dengan invoice sejak paket datang.
Retur Penjualan di Shopee

Sekarang kebalikannya. Retur penjualan terjadi saat customer mengajukan pengembalian ke tokomu.
Penyebab paling umum biasanya barang rusak, warna atau ukuran tidak sesuai, spesifikasi meleset, atau ekspektasi pembeli tidak cocok dengan deskripsi produk.
Pembeli Shopee umumnya harus mengajukan retur dalam rentang 7–14 hari, menyertakan bukti, dan mengikuti instruksi di aplikasi. Dari sisi seller, Shopee pada 2025 mengumumkan pengetatan kebijakan bebas pengembalian untuk kategori tertentu, percepatan pelepasan dana pada retur dengan indikasi penipuan atau kesalahan kurir, serta mekanisme pelaporan pembeli berisiko.
Buat penjual, ini berarti retur bukan cuma urusan layanan pelanggan, tetapi juga urusan margin. Kalau angka retur tinggi, efeknya bisa panjang: ongkir bolak-balik, stok tertahan, rating turun, dan cash flow seret.
Karena itu, seller perlu membedakan mana retur yang wajar karena kerusakan atau miss-pick, dan mana yang sebenarnya bisa dicegah dari awal lewat foto produk yang jujur, deskripsi yang detail, dan kontrol kualitas sebelum kirim.
Cara Buat Jurnal Retur Shopee
Banyak seller bingung saat harus mencatat jurnal retur Shopee, padahal kuncinya tinggal melihat arah barangnya, yaitu:
- Kalau kamu retur ke supplier, itu retur pembelian.
- Nah, kalau customer retur ke kamu, itu retur penjualan.
Pada retur pembelian, akun yang biasanya terlibat adalah persediaan, utang dagang, dan PPN masukan bila ada. Contoh entri yang diberikan adalah debit utang dagang, debit PPN masukan jika ada penyesuaian, lalu kredit persediaan.
Untuk retur penjualan, akun retur penjualan dicatat di sisi debit dan piutang dagang di sisi kredit.
Biar lebih kebayang, ini contoh tabel sederhana untuk metode perpetual.
| Tanggal | Keterangan | Debit | Kredit |
| 5 Jan 2026 | Pembelian stok dari supplier Shopee | Persediaan Rp1.000.000; PPN Masukan Rp110.000 | Utang Dagang Rp1.110.000 |
| 8 Jan 2026 | Retur pembelian 2 pcs cacat ke supplier | Utang Dagang Rp222.000 | Persediaan Rp200.000; PPN Masukan Rp22.000 |
| 15 Jan 2026 | Customer retur barang ke toko Shopee | Retur Penjualan Rp150.000 | Piutang/Kas Rp150.000 |
| 15 Jan 2026 | Barang retur masuk kembali ke stok | Persediaan Rp90.000 | HPP Rp90.000 |
Logikanya begini: saat beli stok, persediaan naik. Saat sebagian stok diretur ke supplier, persediaan turun lagi dan utang dagang ikut turun.
Saat customer mengembalikan barang, pendapatanmu harus dikoreksi lewat akun retur penjualan. Kalau barangnya masih layak jual dan masuk stok lagi, persediaan dinaikkan kembali dan HPP dikurangi.
Untuk bisnis non-PKP, bagian PPN bisa diabaikan; tetapi kalau ada PPN, penyesuaiannya perlu dicatat supaya laporan tidak melenceng.
Tips Kurangi Retur di Shopee dengan Riset Produk Laris

Retur yang sehat itu bukan nol, tetapi tetap rendah dan terkendali. Cara paling efektif menurunkannya justru bukan dimulai dari proses komplain, melainkan dari pemilihan produk.
Kalau kamu menjual barang yang memang demand-nya jelas, spesifikasinya stabil, supplier-nya rapi, dan review pasarnya bagus, risiko retur turun jauh. Sebaliknya, kalau kamu ambil produk viral tanpa cek kualitas, angka retur biasanya cepat naik.
Pentingnya memiliki syarat retur yang jelas dan bukti yang kuat; itu berarti seller juga harus bisa membangun listing yang jelas agar tidak memicu salah paham sejak awal.
Di titik ini, riset produk jadi penting. Seller bisa menekan retur dengan mengecek pola komplain kompetitor, varian yang paling sering bermasalah, serta kategori yang return rate-nya lebih tinggi.
Produk fashion ukuran random, elektronik murah tanpa QC, atau kosmetik dengan ekspektasi hasil berlebihan biasanya punya risiko retur lebih tinggi dibanding produk dengan spesifikasi objektif dan mudah dijelaskan.
Selain riset produk, ada beberapa langkah praktis yang nggak kalah penting
- Pakai foto asli dan jangan terlalu over-edit.
- Tulis deskripsi ukuran, bahan, isi paket, dan kompatibilitas secara detail.
- Lakukan video packing untuk barang rawan sengketa.
- Simpan bukti QC sebelum kirim.
- Respons cepat saat ada komplain karena sebagian retur bisa selesai di tahap negosiasi tanpa eskalasi panjang.
- Shopee juga kini menyediakan fitur banding dan filter status pengembalian untuk membantu seller mengelola kasus dengan lebih rapi.
Kesimpulan
Intinya, retur Shopee tidak cuma soal pembeli mengembalikan barang. Buat seller, ada dua sisi yang harus dipahami: retur pembelian ke supplier dan retur penjualan dari customer.
Bedanya penting karena memengaruhi operasional, stok, dan jurnal keuangan. Kalau kamu paham arah transaksi, pencatatan debit-kredit jadi lebih gampang, dan evaluasi bisnis juga lebih akurat.
Di sisi operasional, Shopee sudah menambah perlindungan untuk seller lewat banding, filter status pengembalian, dan peninjauan pembeli berisiko. Jangan lupa berlangganan Tokpee dan pakai datanya untuk mengurangi retur Shopee atau e-commerce lainnya!

